Tutup
EkonomiEnergiInvestasiPerbankan

Yuan Tantang Dolar, Konflik Iran-AS Ubah Peta Energi

155
×

Yuan Tantang Dolar, Konflik Iran-AS Ubah Peta Energi

Sebarkan artikel ini
perang-iran-ancam-dominasi-petrodolar-dorong-munculnya-petroyuan
Perang Iran Ancam Dominasi Petrodolar-Dorong Munculnya Petroyuan

Jakarta – Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu potensi perubahan besar dalam perdagangan minyak global. Dominasi dolar AS terancam, dengan mata uang yuan China disebut-sebut sebagai alternatif yang semakin kuat.

Perang yang berlangsung hampir sebulan ini, menurut analisis Deutsche bank, menguji fondasi sistem Petrodolar yang telah menjadi tulang punggung transaksi minyak dunia selama puluhan tahun.

kerusakan ekonomi di kawasan Teluk akibat konflik ini dapat mendorong negara-negara produsen minyak untuk mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar AS.

“Jika negara Teluk semakin mendekat ke Asia dalam hubungan perdagangan dan investasi, serta mulai mengurangi penetapan harga minyak dalam dolar, dampaknya terhadap penggunaan dolar dalam perdagangan dan cadangan global akan signifikan,” tulis laporan Deutsche Bank, seperti dikutip dari South China Morning Post, Jumat (27/3).

Sejak kesepakatan Petrodolar 1974, sebagian besar perdagangan minyak global dilakukan dalam dolar AS. Arab Saudi sepakat menetapkan harga minyak dalam dolar sebagai imbalan jaminan keamanan dari Washington. Skema ini memperkuat dominasi dolar dalam rantai nilai global.

Namun, tekanan terhadap sistem tersebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Minyak dari Rusia dan Iran yang terkena sanksi kini diperdagangkan menggunakan mata uang non-dolar. Arab Saudi juga mulai bereksperimen dengan pembayaran non-dolar untuk proyek infrastruktur.

China telah meluncurkan kontrak berjangka minyak berbasis yuan sejak 2018. Meski skalanya masih jauh lebih kecil dibanding transaksi berbasis dolar, langkah ini dinilai sebagai upaya strategis memperluas penggunaan yuan dalam perdagangan energi global.

Iran dilaporkan mulai mengaitkan akses ke Selat Hormuz dengan pembayaran minyak menggunakan yuan. Jalur ini sangat krusial karena sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati wilayah tersebut.

Analis Deutsche Bank menilai dinamika ini perlu diawasi ketat karena berpotensi menjadi titik awal erosi dominasi petrodolar dan munculnya Petroyuan.

Mereka memproyeksikan kemungkinan terjadinya pembelahan sistem.Minyak dari Timur Tengah yang dikirim ke Asia dapat dihargai dalam yuan, sementara pasokan ke sekutu Barat tetap menggunakan dolar.

Selain faktor geopolitik, transisi ke energi terbarukan, pengembangan energi nuklir, dan peningkatan produksi domestik juga diperkirakan akan mengurangi ketergantungan terhadap minyak global.

“Dunia yang semakin mandiri dalam pertahanan dan energi juga bisa menjadi dunia yang menyimpan lebih sedikit cadangan dolar AS,” tulis para analis.