SEOUL – Korea Selatan kini membidik Kazakhstan sebagai pemasok alternatif minyak mentah untuk mengantisipasi gejolak pasokan akibat perang yang terus berkecamuk di Timur Tengah.
Menteri Industri Korea Selatan, Kim Jung-kwan, menyatakan bahwa negosiasi dengan pemerintah Kazakhstan telah menunjukkan kemajuan signifikan. Rincian mengenai volume pasokan yang disepakati rencananya akan diumumkan kepada publik pada awal pekan depan.
Upaya pengamanan energi ini dilakukan setelah Kepala Staf Kepresidenan Korea Selatan, Kang Hoon-sik, bersama Kim Jung-kwan melakukan kunjungan diplomatik ke Kazakhstan awal bulan ini. Selain minyak mentah, Negeri Ginseng tersebut juga berhasil mengamankan tambahan pasokan nafta dari negara di Asia Tengah itu.
“Kazakhstan mungkin terdengar jauh, namun waktu pengiriman minyaknya hampir sama dengan Amerika Serikat, yakni sekitar 50 hingga 60 hari,” ujar Kim.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya jangka panjang untuk mendiversifikasi sumber impor. Saat ini, Korea Selatan sangat bergantung pada impor minyak, di mana 70 persen kebutuhan energi nasionalnya dipasok dari wilayah Timur Tengah.
Dampak perang di Timur Tengah juga memaksa sejumlah negara lain mengambil langkah serupa untuk menjaga stabilitas ekonomi. Di Vietnam, pemerintah memutuskan memperpanjang kebijakan penangguhan pajak bahan bakar hingga akhir Juni mendatang.
Kebijakan tersebut disahkan melalui resolusi Majelis Nasional Vietnam untuk menstabilkan pasar domestik akibat gangguan rantai pasok energi global. Kementerian Keuangan Vietnam memperkirakan kebijakan ini akan mengurangi penerimaan negara sekitar 7,2 triliun dong atau setara US$ 273,40 juta per bulan.
Kenaikan harga bahan bakar di Vietnam telah terjadi sejak akhir Februari lalu. Data dari pedagang bahan bakar Petrolimex mencatat kenaikan harga bensin mencapai 17 persen, sementara harga diesel melonjak hingga 70 persen.
Lonjakan harga energi tersebut memicu kenaikan harga konsumen di Vietnam sebesar 4,65 persen pada Maret lalu secara tahunan (year-on-year). Kondisi ini dinilai cukup menekan upaya pemerintah Vietnam dalam menjaga target inflasi tahunan agar tetap berada di kisaran 4,5 persen.







