JAKARTA – Kebijakan *work from anywhere* (WFA) yang diterapkan pemerintah selama periode Lebaran 2026 dinilai sukses menjadi instrumen efektif dalam mengurai kepadatan lalu lintas. Langkah ini terbukti berhasil menekan lonjakan volume kendaraan, baik saat arus mudik maupun arus balik.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa kebijakan WFA yang berlaku pada 16-17 Maret 2026 dan 25-27 Maret 2026 mampu mendistribusikan volume kendaraan secara lebih merata.
“Kebijakan WFA pada arus mudik terbukti efektif memindahkan volume lalu lintas sebanyak 450.000 kendaraan pada H-3 sampai H-1 Lebaran,” ujar Dudy, Selasa (14/4/2026).
Penerapan sistem kerja fleksibel ini berdampak signifikan terhadap kelancaran arus lalu lintas. Kepadatan pada puncak arus mudik berhasil ditekan hingga 17,94 persen dibandingkan jika kebijakan tersebut tidak diterapkan.
Hasil serupa terlihat pada arus balik. Sekitar 328.000 kendaraan berhasil digeser pergerakannya dari periode hari H hingga H+3 ke rentang H+4 sampai H+8. Distribusi ini menurunkan kepadatan puncak arus balik sebesar 10,57 persen.
Selain WFA, pemerintah juga mengoptimalkan pembatasan angkutan barang. Langkah ini mampu menurunkan volume kendaraan sumbu tiga hingga 74,56 persen. Kementerian Perhubungan pun memberikan sanksi administratif kepada 75 perusahaan yang terbukti melanggar aturan operasional tersebut.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, realisasi pergerakan masyarakat selama Lebaran 2026 mencapai 147,55 juta orang, sedikit melampaui proyeksi awal yang berada di angka 143,92 juta orang atau naik 2,53 persen. Secara keseluruhan, total pergerakan selama periode angkutan Lebaran menyentuh angka 298,6 juta.
Puncak arus mudik terjadi pada H-3 atau Rabu, 18 Maret 2026, sementara puncak arus balik tercatat pada H+7 atau Sabtu, 28 Maret 2026. Pergerakan masyarakat didominasi oleh warga di Pulau Jawa, dengan Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah menjadi wilayah asal serta tujuan perjalanan utama.







