Tutup
Regulasi

Mengapa Harga Emas Tidak Selalu Naik Saat Terjadi Konflik Global

131
×

Mengapa Harga Emas Tidak Selalu Naik Saat Terjadi Konflik Global

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX), Yazid Kanca Surya, mengungkapkan alasan mengapa harga emas tidak selalu naik saat terjadi konflik global, meskipun komoditas ini dikenal sebagai aset aman atau *safe haven*.

Yazid menjelaskan bahwa pergerakan harga emas di tengah ketidakpastian geopolitik sangat dipengaruhi oleh dinamika sektor energi. Ketika sebuah negara membutuhkan likuiditas tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasokan energi, mereka sering kali terpaksa menjual cadangan emasnya ke pasar.

“Energi bagi beberapa negara yang memiliki pasokan emas tinggi, dia harus mempunyai likuiditas yang kuat. Banyak emas dijual di pasar untuk membeli energi,” ujar Yazid di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Fenomena inilah yang menyebabkan pergerakan harga emas terkadang bertolak belakang dengan teori ekonomi konvensional. Meski seharusnya harga emas naik saat konflik terjadi, tekanan kebutuhan likuiditas untuk energi justru bisa memicu penurunan harga emas.

Selain itu, Yazid menyoroti adanya pergeseran perilaku di pasar komoditas global. Jika sebelumnya pasar fokus pada efisiensi harga termurah, kini orientasi pelaku pasar telah beralih pada kepastian pasokan.

Menyikapi perubahan tersebut, JFX terus memperkuat ekosistem perdagangannya dengan menghadirkan kontrak yang lebih fleksibel dan mudah diakses. Bursa juga fokus memperluas partisipasi investor ritel dengan meningkatkan konektivitas global.

Inovasi yang tengah disiapkan JFX meliputi peluncuran kontrak berukuran mikro dan nano untuk komoditas emas, perak, tembaga, dan energi. Produk ini dirancang khusus untuk memfasilitasi investor dengan modal terbatas agar dapat lebih inklusif dalam pasar.

JFX juga sedang mengembangkan perdagangan emas digital yang mengombinasikan kemudahan transaksi teknologi dengan jaminan *underlying* atau aset fisik yang jelas. Skema ini diharapkan mampu menyeimbangkan antara aksesibilitas dan keamanan bagi investor.

Di sisi lain, JFX terus berkomitmen menjaga ekosistem perdagangan yang transparan dan terawasi. Berdasarkan catatan kinerja, JFX saat ini mendominasi lebih dari 95 persen pangsa pasar ekspor timah Indonesia dengan nilai transaksi mencapai US$ 1,7 miliar sepanjang tahun 2025.

Pada sektor derivatif, kontrak olein (OLE01) berkontribusi sebesar 38,7 persen terhadap total volume transaksi *Exchange Traded Derivatives* (ETD) JFX, atau setara dengan 615.028 lot. Sementara itu, kontrak *Loco Gold* mendominasi transaksi *over-the-counter* (OTC) dengan porsi mencapai 85,2 persen.

Selain komoditas, JFX juga menawarkan produk berbasis efek global melalui skema Perdagangan Alternatif Luar Negeri (PALN), yang mencakup akses ke saham dan *Exchange-Traded Fund* (ETF) Amerika Serikat. Tren transaksi pada instrumen diversifikasi ini terus menunjukkan pertumbuhan positif dalam beberapa tahun terakhir.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) baru-baru ini mengambil keputusan bisnis yang cukup penting, yakni bakal menjual seluruh saham tambang batubara Kestrel Coal Group Pty Ltd di Australia. Aksi ini dilakukan AADI melalui anak usahanya Adaro Capital Limited. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Adaro Capital menandatangani Sale and Purchase Agreement (SPA) pada 14 April 2026 sehubungan dengan…