SOLO – Program swasembada pangan nasional yang membutuhkan lahan luas diprediksi akan mengubah lanskap industri properti Indonesia secara drastis dalam lima tahun ke depan. Ketersediaan lahan untuk rumah tapak diperkirakan semakin menipis, sehingga pasar properti akan mulai beralih ke hunian vertikal.
Wakil Ketua Bidang Regulasi dan Perizinan DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah, Bambang Sriyanto, mengungkapkan bahwa keterbatasan lahan dan lonjakan harga tanah membuat hunian tapak akan menjadi barang mewah yang sulit dijangkau masyarakat.
“Lima tahun ke depan, rumah yang menyentuh tanah akan semakin sulit ditemukan. Masyarakat akan diarahkan ke hunian vertikal dengan konsekuensi biaya pembangunan dan operasional yang jauh lebih tinggi,” ujar Bambang saat membuka REI EXPO 2026 di Mall Solo Paragon, Jumat (17/4/2026).
Bambang mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan stok rumah tapak yang saat ini masih tersedia di pasar. Ia menilai pameran REI Expo menjadi momentum strategis bagi calon pembeli sebelum struktur pasar properti sepenuhnya beralih ke hunian vertikal.
Di sisi lain, Ketua Komisariat REI Solo Raya, Oma Nuryanto, menyoroti tantangan regulasi terkait Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Tumpang tindih aturan antara pemerintah pusat dan daerah sering kali menghambat proyek pengembang, bahkan berisiko memicu kredit macet bagi mereka yang telanjur mengambil kredit konstruksi.
Meski menghadapi tantangan struktural, REI Solo Raya optimistis pameran yang berlangsung pada 16-26 April 2026 ini mampu mendongkrak penjualan di tengah tekanan ekonomi. Optimisme tersebut didorong oleh suku bunga KPR yang relatif rendah, yakni di kisaran 4 hingga 5 persen.
“Suku bunga yang rendah dan insentif pajak berupa bebas PPN hingga akhir tahun menjadi daya tarik kuat bagi konsumen,” jelas Oma.
Selain itu, kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang melonggarkan aturan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) turut memberikan angin segar. Kini, masyarakat dengan catatan kredit macet kecil di bawah Rp 1 juta tetap berpeluang mengakses KPR subsidi.
Sebagai daya tarik tambahan, penyelenggara menawarkan promosi agresif, termasuk hadiah umrah bagi konsumen yang melakukan pembelian tunai rumah senilai Rp 2 miliar.
REI EXPO 2026 melibatkan 30 peserta yang terdiri dari 15 pengembang dan 15 sektor pendukung lainnya seperti perbankan serta penyedia material bangunan. Penyelenggara menargetkan nilai transaksi mencapai Rp 50 miliar, melonjak signifikan dibandingkan capaian tahun lalu sebesar Rp 30 miliar.
Antusiasme pengunjung pun mulai terlihat. Salah satunya Nur Anggraini, warga yang berencana melakukan investasi properti di wilayah Solo Raya. “Banyak pilihan menarik di sini. Saya sedang mencari informasi untuk pertimbangan membeli rumah yang sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.







