Jakarta – Pasar keuangan Indonesia kembali mencatatkan geliat positif setelah derasnya aliran modal asing masuk ke sejumlah instrumen domestik pada perdagangan Jumat, 12 Juni 2026. Masuknya dana jumbo ini menjadi katalisator bagi penguatan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menilai fenomena ini merupakan respons pasar terhadap bauran kebijakan otoritas moneter. Investor asing disebut merespons positif keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate ke level 5,50 persen.
“Pasca kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, serta penguatan imbal hasil SRBI dan SBN, investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan tersebut,” ujar Ramdan, Jumat (12/6).
Selain suku bunga, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) kini menjadi magnet baru bagi para pemodal. Bukti antusiasme tersebut terlihat jelas dari lonjakan aliran modal ke instrumen SRBI sesaat setelah lelang pada 10 Juni 2026.
Tak hanya itu, minat pelaku pasar global juga mulai menyasar Surat Berharga Negara (SBN), khususnya untuk tenor pendek hingga menengah. Kondisi ini menegaskan posisi Indonesia sebagai destinasi investasi yang menarik dan prospektif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kembalinya investor asing ini diyakini akan memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik. Selain menambah likuiditas, masuknya modal asing memberikan sinyal kuat bahwa ekonomi nasional berada pada jalur yang stabil di mata dunia.







