Tutup
Regulasi

Analisis Prospek Saham BBCA Usai Aksi Crossing Rp423,74 Miliar

74
×

Analisis Prospek Saham BBCA Usai Aksi Crossing Rp423,74 Miliar

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan transaksi *crossing* sebesar Rp423,74 miliar di harga Rp7.864 pada Senin (27/4). Aksi korporasi ini terjadi di tengah tren pelemahan harga saham BBCA yang ditutup terkoreksi 1,24% ke level Rp5.975.

Level harga tersebut menjadi titik terendah saham BBCA sejak periode pandemi Covid-19 pada 2021. Berdasarkan data perdagangan, volume transaksi mencapai 273,26 juta saham dengan nilai total Rp1,64 triliun, sementara kapitalisasi pasar perusahaan kini berada di angka Rp736,57 triliun.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai bahwa secara teknikal, pergerakan saham BBCA masih dalam fase *downtrend* pada grafik bulanan. Namun, ia melihat tekanan jual mulai mereda.

“Volume penjualan saat ini relatif lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, yang mengindikasikan tekanan distribusi dari investor mulai berkurang. Ini menjadi sinyal awal bahwa fase koreksi kemungkinan mendekati titik jenuh,” ujar Herditya.

Ia merekomendasikan investor untuk mulai mempertimbangkan akumulasi bertahap. Menurut analisisnya, koreksi saham BBCA cenderung terbatas untuk menguji area *support* di level 5.900. Jika mampu bertahan di atas area tersebut, BBCA berpeluang kembali menguat ke rentang harga 6.575-7.025.

Senada dengan pandangan teknikal tersebut, Analis DBS, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menilai secara historis saham BBCA kini berada pada valuasi yang sangat murah. Rasio *price-to-book value* (P/BV) *forward* BBCA saat ini telah turun ke kisaran 2,6x, level terendah sejak krisis keuangan global (*Global Financial Crisis*).

“Kondisi ini menunjukkan saham BBCA telah memasuki area valuasi siklikal terbawah dan sangat menarik untuk investasi jangka panjang,” jelas Nurkholis.

Menurutnya, penurunan harga saham belakangan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, seperti kekhawatiran terkait MSCI, sentimen *global risk-off*, dan tekanan pada *outlook* rating, bukan karena penurunan kinerja fundamental.

Ia menegaskan, fundamental BCA tetap solid, didukung oleh kualitas aset yang baik dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sekitar 1,8%. Selain itu, struktur pendanaan BBCA dinilai unggul dengan pertumbuhan kredit yang stabil serta permodalan yang kuat dengan *Capital Adequacy Ratio* (CAR) sebesar 29,8%.

Dengan profitabilitas yang diproyeksikan tetap positif, rencana manajemen untuk mendistribusikan dividen secara kuartalan dinilai akan meningkatkan daya tarik saham BBCA. Langkah ini memberikan visibilitas arus kas yang lebih baik bagi investor dan membuka ruang bagi peningkatan rasio pembayaran dividen di masa mendatang.

Regulasi

Jakarta, IDN Times – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa terus menyampaikan optimismenya terkait angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Purbaya memprediksi IHSG bisa tembus ke level 28 ribu dalam kurun waktu beberapa tahun mendatang. Keyakinan tersebut didasarkan pada anggapannya bahwa kekuatan fondasi ekonomi dan siklus ekspansi per…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA — Prospek pasar saham Indonesia dinilai masih terbuka lebar seiring penguatan ekonomi domestik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang naik hingga empat…