Tutup
EkonomiEnergiManufakturNews

IAFMI Dorong Penguatan Industri Penunjang Migas Nasional

85
×

IAFMI Dorong Penguatan Industri Penunjang Migas Nasional

Sebarkan artikel ini
lepas-ketergantungan-impor,-industri-migas-nasional-didorong-bangkit-jadi-pemain-global
Lepas Ketergantungan Impor, Industri Migas Nasional Didorong Bangkit Jadi Pemain Global

Cilegon – Industri minyak dan gas (migas) indonesia dinilai tengah berada di titik kritis akibat masih tingginya ketergantungan pada impor peralatan strategis, minimnya penguasaan teknologi, serta lemahnya basis industri domestik untuk bersaing di rantai pasok global.

Selama ini, Indonesia disebut masih terjebak dalam skema ekstraksi sumber daya dan belum sepenuhnya beralih ke penguatan kapabilitas industri.

Merespons kondisi itu, Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) bersama Komunitas Migas Indonesia (KMI) mendorong transformasi industri penunjang migas nasional.

Langkah tersebut diwujudkan melalui kunjungan kerja ke fasilitas produksi pipa Indonesia Seamless Tube (IST) milik PT Artas Energi Petrogas di kawasan Industri Krakatau Steel, Cilegon.

Kunjungan itu dipimpin Sekretaris Jenderal IAFMI Gede Pramona, didampingi jajaran pengurus IAFMI, serta dihadiri Chairman KMI S Herry Putranto.

Pertemuan tersebut berfokus pada penyusunan strategi penguatan daya saing produk pipa seamless dalam negeri yang kini telah mencapai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 46 persen, agar benar-benar mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global. Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok.Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal,” kata Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas Hendrik Kawilarang Luntungan dalam keterangannya, Minggu, 3 Mei 2026.

kapabilitas industri nasional itu, menurut perusahaan, telah dibuktikan oleh PT Artas Energi Petrogas. Sebagai satu-satunya produsen seamless tube di Tanah Air, produk IST telah digunakan dalam berbagai proyek Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan standar kualitas global API 5CT dan API 5L.

Tidak hanya melakukan substitusi impor, perusahaan itu juga telah mengekspor produknya ke pasar Asia hingga Timur Tengah, sekaligus menyumbang devisa negara mencapai Rp15 triliun.

Melalui kolaborasi strategis ini, IAFMI dan KMI menargetkan transformasi industri migas yang berdampak signifikan, mulai dari penurunan tajam impor peralatan migas, efisiensi cost recovery, peningkatan TKDN yang berorientasi pada kualitas, lahirnya national champions di sektor industri migas, hingga pengukuhan Indonesia sebagai basis industri migas utama di kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, para pelaku industri menyadari tantangan besar masih membentang, mulai dari tingginya impor komponen kritikal hingga kurangnya penguasaan teknologi dan research & progress (R&D).