Tutup
EkonomiEnergiNews

Harga Pangan Global Tekan Rumah Tangga Inggris

82
×

Harga Pangan Global Tekan Rumah Tangga Inggris

Sebarkan artikel ini
efek-domino-perang-dan-perubahan-iklim,-harga-pangan-naik-50-persen
Efek Domino Perang dan Perubahan Iklim, Harga Pangan Naik 50 Persen

Jakarta – Kenaikan harga pangan global kembali menghantam rumah tangga di Inggris dan memperlihatkan betapa rentannya sistem pangan dunia ketika tekanan iklim, gangguan pasokan, dan ketegangan geopolitik saling bertumpuk. Di tengah krisis biaya hidup yang belum reda, harga sejumlah kebutuhan pokok di negara itu diperkirakan terus merangkak naik dalam beberapa tahun ke depan.

Lembaga think tank Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) memproyeksikan harga pangan di Inggris bisa melonjak hingga 50 persen pada November 2026 dibandingkan posisi awal krisis biaya hidup pada pertengahan 2021. Proyeksi ini dinilai sebagai sinyal buruk karena laju kenaikannya jauh lebih cepat dari tren historis harga pangan.

ECIU menyebut lonjakan tersebut tidak lahir dari satu faktor tunggal. Cuaca ekstrem, terganggunya rantai pasok global, serta ketergantungan pada minyak dan gas membuat biaya produksi dan distribusi makanan semakin mahal.

Dampaknya sudah terlihat pada sejumlah komoditas. Pasta, sayuran beku, cokelat, telur, dan daging sapi dilaporkan naik antara 50 persen hingga 64 persen. Sementara itu, minyak zaitun mencatat kenaikan paling tajam, yakni 113 persen, dipicu mahalnya energi, pupuk sintetis, serta dampak kekeringan dan gelombang panas.

Beban itu langsung dirasakan konsumen. Dalam periode 2022-2023, rata-rata belanja makanan keluarga di Inggris naik £605 atau sekitar Rp13,9 juta dengan asumsi kurs Rp23.000 per pound. Dari jumlah tersebut, sekitar £244 atau Rp5,6 juta dikaitkan langsung dengan lonjakan biaya energi.

Tekanan harga makin berat pada komoditas yang sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Mentega, susu, daging sapi, cokelat, dan kopi disebut mengalami kenaikan lebih dari empat kali lipat dibandingkan produk pangan lain, sehingga menjadi pendorong utama inflasi makanan.

Analis pangan ECIU, Chris Jaccarini, menilai situasi di Timur Tengah juga ikut memperburuk beban belanja konsumen. Ia mengatakan perang di kawasan itu mendorong harga minyak dan gas naik, yang pada akhirnya menambah mahal tagihan makanan. “Perang Trump di Timur Tengah diperkirakan akan mendorong tagihan belanja semakin tinggi seiring lonjakan harga minyak dan gas,” ujarnya, dikutip dari ITV, Senin, 4 Mei 2026.