Tutup
InvestasiNews

Bitcoin Tembus US$80.000 Didukung ETF dan Geopolitik

86
×

Bitcoin Tembus US$80.000 Didukung ETF dan Geopolitik

Sebarkan artikel ini
bitcoin-tembus-us$80.000-terdongkrak-etf-dan-sentimen-geopolitik
Bitcoin tembus US$80.000 Terdongkrak ETF dan Sentimen Geopolitik

Jakarta – Bitcoin kembali melaju kencang dan menembus level US$80.000 pada perdagangan Selasa lalu, posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir sejak Januari 2026. Penguatan ini muncul di tengah derasnya arus dana institusional dan membaiknya selera investor terhadap aset berisiko di pasar global.

Vice President indodax Antony Kusuma menilai lonjakan Bitcoin kali ini ditopang dua motor utama yang bergerak bersamaan. Di satu sisi, produk ETF bitcoin mencatat inflow besar hingga US$625 juta hanya dalam satu hari. Di sisi lain,pasar kripto ikut menerima dorongan dari likuiditas yang membaik,meningkatnya minat terhadap aset berisiko,serta ketegangan geopolitik yang masih tinggi.

“Bitcoin saat ini berada dalam posisi yang unik karena mendapatkan dorongan dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, ia bergerak mengikuti sentimen pasar global, namun di sisi lain juga mulai dipertimbangkan sebagai alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik,” ujar Antony, Kamis, 7 Mei 2026.

Ia menjelaskan, kombinasi faktor tersebut membuat investor mulai melirik aset lindung nilai di luar sistem keuangan tradisional. Aktivitas perdagangan pun ikut meningkat, dengan volume harian pasar yang disebut mencapai sekitar US$48 miliar.

Data CoinMarketCap yang dikutip Antony menunjukkan total aset dalam ETF Bitcoin kini berada di kisaran US$105 miliar. Menurut dia, angka itu menandakan partisipasi investor institusional yang semakin besar sekaligus mencerminkan tingkat kepercayaan yang kian kuat.

“Ini menunjukkan ada momentum positif di pasar, namun dinamika yang terjadi tetap harus dianalisis secara cermat,” katanya.

Meski sinyal bullish mulai terlihat, Antony mengingatkan bahwa pasar kripto tetap sangat dipengaruhi likuiditas dan faktor eksternal.Pergerakan harga ke depan, kata dia, masih bergantung pada perkembangan makroekonomi dan situasi geopolitik global.

“Volatilitas tetap menjadi karakter utama aset kripto yang perlu dipahami investor dalam mengambil keputusan,” ujarnya.

Antony berharap investor di Indonesia dapat membaca peluang ini secara bijak, terukur, dan tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko di tengah perubahan pasar yang bergerak cepat.