Jakarta – Boeing menyatakan pasar China kembali terbuka setelah Beijing menyampaikan komitmen awal membeli 200 pesawat dalam kunjungan presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing, Jumat (15/5). Kesepakatan itu bahkan disebut masih bisa melebar menjadi pemesanan hingga 750 unit pada tahap berikutnya.
CEO Boeing Kelly Ortberg yang ikut dalam rombongan delegasi AS ke China menilai lawatan tersebut berjalan positif. Dalam pernyataan tertulis yang dikutip AFP,Sabtu (16/5),ia mengatakan kunjungan itu memang difokuskan untuk menghidupkan kembali peluang penjualan Boeing di pasar China.
“Kami telah melakukan perjalanan yang sangat sukses ke China dan mencapai tujuan utama kami untuk membuka kembali pasar China untuk pesanan pesawat Boeing,” ujar Ortberg.
Boeing belum mengungkap jenis pesawat yang masuk dalam komitmen awal tersebut.Saat dimintai keterangan lebih lanjut oleh AFP, perusahaan juga tidak menjelaskan model armada yang masih dibahas dalam negosiasi.
Pabrikan asal Amerika Serikat itu menyampaikan apresiasi kepada pemerintahan Trump atas tercapainya kesepakatan awal tersebut. Boeing menegaskan, mereka ingin terus memenuhi kebutuhan penerbangan di China, yang selama ini menjadi pasar besar dalam proyeksi jangka panjang industri aviasi.
Dalam proyeksi penerbangan komersial global 20 tahun yang dirilis pada Juni tahun lalu, Boeing memperkirakan akan ada 44 ribu pesawat baru yang dibangun di seluruh dunia hingga 2044. Jumlah itu naik jauh dari proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 21 ribu unit, termasuk armada yang sudah beroperasi dan tambahan permintaan baru.
Sekitar separuh dari kebutuhan tersebut diperkirakan berasal dari China, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Prospek itu ikut menjadi penopang bagi Boeing di tengah persaingan ketat dengan Airbus dari Eropa.
China terakhir kali memesan pesawat Boeing pada 2017, saat Trump juga berkunjung ke Beijing pada masa awal pemerintahannya. Ketika itu, Beijing membeli 300 pesawat lorong tunggal dan berbadan lebar dengan nilai sekitar US$37 miliar atau setara Rp651 triliun, dengan kurs Rp17.600 per dolar AS.
Trump sebelumnya sempat menyinggung potensi pesanan besar dari China. pada Kamis (14/3), ia mengatakan kepada pembawa acara Fox News Sean Hannity bahwa Beijing berencana memesan “200 pesawat besar”. Dalam penerbangan pulang menggunakan Air Force One, Trump bahkan menyebut adanya “janji 750 pesawat” yang bisa menjadi pesanan terbesar sepanjang sejarah bila kesepakatan awal 200 unit benar-benar berjalan.
Sejumlah laporan media AS dalam beberapa bulan terakhir juga menyebut China tengah menyiapkan pembelian besar dari Boeing. Paket itu dikabarkan mencakup 500 pesawat 737 MAX serta sekitar 100 unit 787 Dreamliner dan 777.
Secara historis,rekor pesanan berdasarkan jumlah unit masih dipegang Indigo yang memesan 500 Airbus A320. Sementara itu, 737 MAX punya riwayat panjang di China. Negara tersebut menjadi yang terakhir di dunia yang kembali mengizinkan pesawat itu terbang setelah dua kecelakaan fatal Lion Air pada 2018 dan Ethiopian Airlines pada Maret 2019 yang menewaskan total 346 orang.
Setelah insiden itu, 737 MAX dilarang terbang secara global selama 20 bulan. Pesawat tersebut kembali mengudara di Amerika Serikat pada November 2020, kemudian di Eropa pada Januari 2021, tetapi baru mendapat izin kembali di china pada 2023.
Beijing sempat menghentikan seluruh pengiriman pesawat Boeing pada 2019. Izin pengiriman 787 Dreamliner baru terbit pada desember 2023,lalu disusul 737 MAX sebulan kemudian.Meski begitu, regulator China kembali menunda pengiriman selama beberapa pekan pada pertengahan 2024 akibat persoalan baterai lithium pada sejumlah model.
Boeing, sebagai eksportir terbesar Amerika Serikat berdasarkan nilai dolar, juga ikut terdampak perang dagang saat Trump kembali ke Gedung Putih pada januari 2025. China kemudian membalas dengan melarang perusahaan-perusahaan domestiknya memesan jet Boeing atau menerima pesawat yang sudah dipesan.
kedua negara akhirnya mencapai gencatan senjata dagang pada akhir tahun lalu. Kesepakatan itu membuka kembali jalan bagi boeing untuk menjalankan bisnis normal dengan pelanggan di China.
Hingga akhir bulan lalu, Boeing tercatat mengantongi 6.814 pesanan pesawat aktif, termasuk 4.371 unit 737 MAX, dengan nilai total sekitar US$600 miliar.







