Jakarta – kuba kembali menghadapi tekanan berat setelah pasokan bahan bakar dari luar negeri tersendat dan cadangan minyaknya dikabarkan nyaris habis. Situasi itu memicu pemadaman listrik berulang di berbagai wilayah, sementara pemerintah menuding blokade Amerika Serikat sebagai faktor utama yang memperburuk krisis energi di negara Karibia tersebut.
Menteri Energi Kuba Vicente de la O Levy mengatakan kapal tanker terakhir dari Rusia yang sempat masuk selama masa blokade kini sudah tidak menyisakan stok. Ia menyebut kondisi itu membuat pasokan energi makin rapuh.
“Minyak itu kini telah habis.Dampak blokade memang sangat merugikan kami… karena kami masih belum menerima bahan bakar,” kata De la O Levy dalam wawancara dengan televisi pemerintah, dikutip AFP, Sabtu (16/5).
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel juga melayangkan kritik keras ke Washington melalui unggahan di X. Ia mendesak pemerintahan AS mencabut blokade yang menurutnya memperparah penderitaan warga Kuba.
Diaz-Canel menilai kerusakan dapat ditekan lebih cepat jika pembatasan tersebut segera dilonggarkan atau dihentikan sepenuhnya. Di sisi lain, Havana terus berupaya menjaga saluran komunikasi dengan Washington tetap terbuka.
Pada 10 April, kedua negara menggelar pertemuan tingkat tinggi di Havana. Momen itu menjadi sorotan karena menandai kedatangan pesawat pemerintah Amerika serikat ke ibu kota Kuba untuk pertama kalinya sejak 2016.
Kontak terbaru terjadi saat Direktur CIA john Ratcliffe berkunjung ke Kuba pada Kamis pekan lalu. Langkah itu dibaca sebagai sinyal bahwa komunikasi kedua pihak mulai menghangat di tengah krisis energi yang menekan Havana.
CIA mengonfirmasi kunjungan tersebut dan merilis foto Ratcliffe saat berbicara dengan ramon Romero Curbelo, Kepala Intelijen Kementerian Dalam Negeri Kuba, serta sejumlah pejabat lain yang wajahnya diburamkan. Pemerintah Kuba menyebut pertemuan itu sebagai peluang untuk meredakan ketegangan.
“Pertemuan dengan Ratcliffe berlangsung dalam konteks yang ditandai oleh kompleksitas hubungan bilateral, dengan tujuan berkontribusi terhadap dialog politik antara kedua negara,” demikian pernyataan pemerintah Kuba.
havana juga menegaskan Kuba bukan ancaman bagi keamanan nasional AS dan menilai negaranya tak layak dicantumkan dalam daftar negara yang dituduh mendukung terorisme. “kuba tidak pernah mendukung aktivitas bermusuhan apa pun terhadap Amerika Serikat,” kata pemerintah Kuba.
Dari Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada kamis menawarkan bantuan senilai US$100 juta, tetapi dengan syarat distribusinya dilakukan melalui Gereja katolik, bukan pemerintah Kuba. Dalam wawancara dengan NBC news, Rubio justru menyalahkan Havana atas penderitaan warga di tengah krisis energi.
“Rakyat Kuba harus tahu ada bantuan makanan dan obat-obatan senilai US$100 juta yang tersedia bagi mereka saat ini. Ini adalah kepentingan nasional kami untuk memiliki Kuba yang makmur, bukan negara gagal yang berjarak 90 mil dari pantai kami,” ujar Rubio.
presiden Donald Trump sebelumnya juga beberapa kali menunjukkan keinginan untuk melemahkan pemerintahan komunis kuba. Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada CBS News bahwa pemerintahan Trump juga berupaya mendakwa Raul Castro, adik mendiang Fidel Castro yang kini berusia 94 tahun.
Krisis Kuba makin dalam setelah salah satu penopang ekonominya ikut runtuh pada Januari lalu, saat pasukan AS menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Setelah menguasai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia itu, AS disebut memberlakukan blokade bahan bakar terhadap Kuba.







