Jakarta – Iran mengandalkan armada kapal cepat berukuran kecil untuk mengganggu Amerika Serikat di Selat Hormuz. Strategi itu membuat Washington kewalahan, meski Donald Trump menyebut Angkatan Laut Iran sudah “sepenuhnya dihancurkan” dan tinggal menyisakan “perahu-perahu kecil dengan senapan mesin di atasnya”.Kendati begitu, kapal-kapal kecil yang oleh sebagian analis Barat dijuluki armada nyamuk itu dinilai tetap efektif. Selama berbulan-bulan, armada ini membantu Iran memicu gangguan serius di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan dunia.
Sejumlah ahli menilai langkah tersebut ditujukan untuk menekan ekonomi global sekaligus memaksa Washington melonggarkan tekanan militernya terhadap Teheran. BBC melaporkan, armada serang kecil dan cepat itu dibentuk militer Iran pada 1980-an saat perang Iran-Irak.
Konflik yang awalnya melibatkan dua negara itu kemudian meluas ke Teluk Persia dalam periode yang dikenal sebagai Perang Tanker. Amerika Serikat ikut terseret karena ingin mengamankan pengiriman minyak.
Bentrok dengan Angkatan Laut AS kemudian membuat armada kapal perang konvensional Iran terpukul. Dari situ, Iran membangun doktrin perang baru dengan mengandalkan kapal-kapal kecil untuk menghadapi angkatan laut yang lebih kuat.Armada ini menjadi bagian dari strategi militer iran yang lebih luas. Unsurnya meliputi rudal,drone,ranjau,peluncur pantai,serta serangan dari proksi di negara-negara tetangga.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC mengoperasikan armada tersebut. Dalam doktrinnya, kapal-kapal itu bukan untuk perang laut konvensional, melainkan untuk mengganggu, mengepung, membingungkan, dan mengacaukan pelayaran.
“IRGC mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengalahkan Amerika Serikat dalam perang laut konvensional,” kata Saeid Golkar, profesor madya di University of Tennessee di Chattanooga sekaligus penasihat senior di United Against Nuclear Iran, UANI.
Ia menambahkan, Teheran kemudian menargetkan kapal tanker komersial dan menjadikan Selat hormuz sebagai wilayah operasi yang lebih berbahaya. Kondisi itu, kata dia, otomatis meningkatkan biaya dan risiko bagi perusahaan yang melintas di Teluk.
Golkar menyebut taktik armada nyamuk dilakukan dengan melepaskan tembakan di dekat kapal komersial, menanam ranjau di laut, dan mengirim perahu-perahu berkecepatan tinggi dari berbagai arah.







