Jakarta – Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi internet nasional telah menyentuh angka 81,7 persen pada 2026. Dari total 287,3 juta penduduk, sebanyak 235,2 juta jiwa kini telah terhubung ke dunia maya.
Tingkat pendidikan menjadi tolok ukur signifikan dalam penggunaan layanan ini. Kelompok masyarakat berpendidikan perguruan tinggi mencatatkan penetrasi tertinggi sebesar 92,49 persen, sedangkan masyarakat dengan jenjang SD atau tidak sekolah berada di angka 74,84 persen.
Dari sisi demografi usia, generasi milenial memimpin penggunaan internet dengan persentase 90,34 persen, disusul oleh Gen Z sebesar 89,02 persen. Berdasarkan aktivitasnya, kelompok masyarakat yang bekerja mendominasi penggunaan internet hingga mencapai 84,9 persen.
Akses internet kini telah menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat dalam menunjang aktivitas ekonomi dan sosial. Mayoritas pengguna memanfaatkannya untuk berkomunikasi dan bersosialisasi (19,9 persen), hiburan digital (19,7 persen), mencari informasi (19,6 persen), serta transaksi e-commerce (18,7 persen).
Kendati tren penggunaan terus meningkat, APJII masih menemukan hambatan bagi masyarakat yang belum terjangkau. Sebanyak 34 persen responden terkendala ketiadaan perangkat, 31,5 persen gagap teknologi, dan 17,2 persen mengeluhkan mahalnya harga kuota.
Selain masalah akses, keamanan siber juga menjadi perhatian serius. Data menunjukkan 13,6 persen masyarakat pernah menjadi korban penipuan online, sementara 7,8 persen lainnya mengalami pencurian data atau phishing.
Di sisi lain, layanan internet tetap (fixed broadband) mencatatkan pertumbuhan positif dengan jumlah pelanggan mencapai 99,5 juta jiwa. Layanan berbasis kabel atau fiber menjadi yang paling diminati dengan kontribusi sebesar 37,9 persen.
Ketua Umum APJII, Muhammad Arif, menyebut pertumbuhan pelanggan internet tetap naik 3,6 persen dibandingkan tahun lalu. “Jumlah masyarakat yang berlangganan internet tetap mencapai 99.515.436 jiwa,” ujar Arif di Jakarta, Kamis (21/5/2026).







