Tutup
Regulasi

Dampak Rebalancing MSCI: Asing Tarik Rp8,5 Triliun, Simak Saham Rekomendasi Analis

132
×

Dampak Rebalancing MSCI: Asing Tarik Rp8,5 Triliun, Simak Saham Rekomendasi Analis

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah pada perdagangan akhir bulan Mei 2026. Pada Jumat (29/5/2026), IHSG ditutup melemah tipis 0,05% ke level 6.127,38, yang membuat performa indeks sepanjang tahun berjalan (*year to date*) terkoreksi tajam hingga 29,14%.

Tekanan jual yang membayangi pasar modal domestik ini dipicu oleh dampak efektif *rebalancing* indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam evaluasi terbarunya, MSCI mengeluarkan 19 saham Indonesia dari jajaran indeksnya, yang memicu aksi jual masif dan meningkatkan volatilitas pasar.

Kuatnya tekanan jual tercermin dari besarnya arus keluar dana asing. Hingga penutupan perdagangan, investor asing mencatatkan nilai jual bersih (*net sell*) mencapai Rp 8,51 triliun, melonjak drastis dari sesi pertama yang berada di angka Rp 1,6 triliun.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menyebut *rebalancing* MSCI sebagai faktor utama yang membebani pergerakan IHSG. Menurutnya, volatilitas pasar tetap tinggi seiring dengan berlakunya masa efektif penyesuaian indeks tersebut.

Namun, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, memiliki pandangan berbeda. Ia menilai dampak *rebalancing* sebenarnya telah diserap pasar secara bertahap sejak 12 Mei. Menurut Wafi, mayoritas manajer investasi telah melakukan penyesuaian portofolio lebih awal, sehingga tidak terjadi penumpukan tekanan pada satu hari perdagangan.

“Dengan meredanya tekanan *rebalancing*, peluang stabilisasi pasar mulai terbuka pada pekan depan,” ujar Wafi. Secara teknikal, ia memprediksi IHSG akan bergerak dengan level *support* di kisaran 6.050-6.100 dan *resistance* di area 6.300.

Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta waspada terhadap berbagai risiko, seperti eskalasi konflik di Timur Tengah, ketidakpastian kebijakan ekspor, hingga evaluasi indeks FTSE yang dijadwalkan efektif pada 22 Juni mendatang.

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal, Irwan Ariston, mengingatkan bahwa *rebalancing* MSCI hanyalah faktor jangka pendek. Menurutnya, masalah utama yang dihadapi pasar saham Indonesia saat ini adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang mencerminkan penurunan kepercayaan investor.

“Kepercayaan adalah fondasi investasi. Tanpa kepercayaan yang kuat, risiko yang dipersepsikan investor akan meningkat, tidak hanya pada aspek ekonomi makro, tetapi juga stabilitas politik dan kepastian hukum,” jelas Irwan.

Dalam menghadapi kondisi pasar saat ini, Irwan menyarankan investor pemula untuk mengambil sikap *wait and see*. Sementara itu, bagi investor aktif, ia menekankan pentingnya selektif memilih emiten dengan fundamental kuat.

Senada dengan hal itu, Wafi menyarankan investor untuk menghindari saham-saham berspekulasi tinggi dan fokus pada emiten dengan *free float* di atas 15%, laba solid, serta *dividend yield* yang menarik. Saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA dan BMRI dinilai menarik karena telah berada di area *oversold*. Selain itu, saham komoditas seperti AADI dan PTBA juga dianggap prospektif.

Untuk strategi spesifik, Imam Gunadi merekomendasikan akumulasi beli pada saham CMRY dengan target harga Rp 4.950 per saham dan batas *stop loss* di bawah Rp 4.260 per saham.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Investor ritel perlu lebih selektif menentukan strategi investasi emas. Pasalnya, saat harga emas mulai rebound setelah sempat tertekan dalam sebulan terakhir, spread harga jual dan buyback emas batangan masih relatif lebar. Melansir Bloomberg, pada perdagangan Jumat (29/5/2026), Harga emas spot ditutup pada level US$ 4.540,26 per ons troi, naik 1% disbanding sehari sebelumnya. Namun, dalam sebulan terakhir harga emas…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Kinerja PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) pada tahun buku 2025 dinilai menunjukkan pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan. Perseroan mencatat lonjakan pendapatan sebesar 62,1% secara tahunan menjadi Rp 577 miliar, serta berhasil membalikkan kinerja menjadi laba bersih sekitar Rp65 miliar. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai, pertumbuhan tersebut bukan sekadar faktor sementara, melainkan ditopang oleh perbaikan…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Perjalanan investasi masing-masing pribadi tentu unik dan berbeda, tergantung dengan kesempatan yang datang dalam hidup mereka. Kesempatan belajar berinvestasi yang dimiliki Direktur PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) Sunyoto Bambang Kusumo membuatnya menjadi investor yang tetap mampu memanfaatkan peluang di tengah volatilitas pasar saham domestik saat ini. Literasi keuangan dan investasi sudah dia dapatkan sejak…