Regulasi

Strategi Manajer Investasi Perkuat Seleksi Saham di Tengah Tekanan Pasar

118
×

Strategi Manajer Investasi Perkuat Seleksi Saham di Tengah Tekanan Pasar

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Kinerja industri reksadana di Indonesia masih berada di bawah tekanan seiring dengan masih tingginya volatilitas pasar keuangan domestik. Pelemahan pasar saham serta fluktuasi nilai tukar rupiah membuat para manajer investasi harus memperketat seleksi portofolio demi menjaga kinerja hingga kuartal III 2026.

Data Infovesta per Mei 2026 menunjukkan mayoritas produk reksadana mencatatkan kinerja negatif. Reksadana saham menjadi instrumen yang paling terpukul dengan koreksi 10,22% secara bulanan (*month on month*) dan 17,66% secara *year to date* (YtD).

Tren serupa terjadi pada reksadana campuran yang melemah 5,13% secara bulanan. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap mencatatkan kenaikan tipis 0,22%, meski secara tahunan masih terkoreksi. Hanya reksadana pasar uang yang mampu bertahan di zona hijau dengan pertumbuhan 0,27% secara bulanan.

Kondisi ini sejalan dengan melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup di level 5.594 pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

Menanggapi tantangan tersebut, *Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution* Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, menegaskan pentingnya menyeimbangkan upaya mengejar imbal hasil dengan pengelolaan risiko yang disiplin.

“Strategi kami adalah memperbesar eksposur pada emiten dengan model bisnis resilien, neraca keuangan sehat, serta kemampuan menjaga pertumbuhan laba di tengah ketidakpastian ekonomi,” ujar Reza.

Reza menjelaskan, pihaknya kini menerapkan manajemen portofolio aktif dengan terus mengevaluasi valuasi setiap sektor. HPAM juga menjaga likuiditas tetap tinggi guna memberikan fleksibilitas saat terjadi dislokasi harga di pasar.

Pendekatan ini terbukti efektif pada produk HPAM Syariah Ekuitas, yang mampu membatasi koreksi hanya sebesar 0,39% secara bulanan hingga Mei 2026. Berdasarkan laporan per 30 April 2026, dana kelolaan produk ini dominan ditempatkan pada saham-saham pilihan seperti MPMX, SSIA, SRTG, MTEL, dan PWON.

Menyongsong kuartal III 2026, fokus utama tetap pada diversifikasi sektoral dan emiten dengan fundamental kuat serta tata kelola yang baik. Reza memprediksi pasar saham masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek karena pelaku pasar masih mencermati kebijakan suku bunga global dan arus modal asing.

Meski demikian, ia meyakini prospek jangka panjang pasar modal Indonesia tetap konstruktif berkat sokongan konsumsi domestik, inflasi yang terkendali, dan stabilitas sektor keuangan. Koreksi pasar saat ini justru dianggap sebagai momen yang menarik bagi investor karena valuasi sejumlah saham menjadi lebih murah dari rata-rata historisnya.

Reza memberikan panduan bagi investor berdasarkan profil risikonya. Investor konservatif disarankan fokus pada instrumen pasar uang dan pendapatan tetap berdurasi pendek untuk menjaga likuiditas. Investor moderat dapat menyeimbangkan antara reksadana pendapatan tetap dan saham.

Sementara itu, bagi investor agresif dengan cakrawala investasi panjang, ia menyarankan mulai menambah eksposur ke reksadana saham secara bertahap.

“Kuartal III bukan sekadar melindungi portofolio dari volatilitas, melainkan juga menyiapkan posisi investasi untuk menangkap peluang pertumbuhan saat kondisi pasar kembali stabil,” pungkasnya.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Emiten infrastruktur telekomunikasi yang terafiliasi Djarum, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mampu membukukan pertumbuhan kinerja keuangan di periode Januari–Maret 2026. Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2026, TOWR membukukan pendapatan sebesar Rp 3,55 triliun. Ini tumbuh 10,82% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 3,20 triliun. Rinciannya pendapatan dari pendapatan sewa berkontribusi sebesar Rp 2,87…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Pasar keuangan domestik saat ini masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Di pasar saham, misalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot sekitar 35,3% sejak awal tahun 2026 ke level 5.594,76. Tekanan juga terjadi di pasar keuangan secara lebih luas seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Dalam situasi yang penuh tantangan seperti saat ini, investor tampaknya…