Jakarta – Penggunaan galon guna ulang berbahan polikarbonat kembali mendapat sorotan tajam terkait risiko peluruhan zat Bisphenol A (BPA). Pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Djaja Surya Atmadja, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan batas usia pakai material plastik tersebut.
Menurut dr. Djaja, idealnya galon guna ulang tidak digunakan lebih dari satu tahun. Ia menjelaskan bahwa penggunaan yang melebihi batas waktu tersebut berisiko memicu peluruhan zat kimia BPA ke dalam air minum secara perlahan.
Proses penuaan atau aging pada material polimer seperti polikarbonat tidak bisa dihindari. Paparan suhu, proses pencucian, hingga tekanan fisik selama distribusi terus-menerus akan mengubah struktur permukaan plastik seiring berjalannya waktu.
Secara visual, tanda penuaan ini dapat dikenali melalui kondisi fisik galon yang mulai terlihat kusam, buram, atau muncul goresan halus. Goresan tersebut merupakan indikasi adanya mikrokerusakan pada lapisan luar plastik akibat gesekan berulang.
Faktanya, dr. Djaja mengungkap bahwa di lapangan masih ditemukan galon yang beredar hingga belasan tahun. Berdasarkan survei yang ia ketahui, terdapat galon yang telah digunakan selama 11 hingga 13 tahun dalam kondisi fisik yang sangat buram.
Meskipun air di dalamnya tampak jernih, kualitas fisik material kemasan tersebut dipastikan tidak lagi sama seperti saat baru diproduksi. Oleh karena itu, batasan usia pakai menjadi faktor krusial untuk meminimalisir potensi perpindahan zat kimia ke dalam konsumsi air harian.







