Jenewa – Pasar tenaga kerja dunia sedang berada di ambang transformasi besar yang dipicu oleh adopsi kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, serta peralihan menuju ekonomi hijau.
World Economic Forum (WEF) dalam laporan tertanggal 23 Juli 2026 memperkirakan terciptanya 170 juta peluang kerja baru dalam empat tahun ke depan.
Meskipun terdapat potensi penghapusan sekitar 92 juta posisi lama akibat pergeseran teknologi, secara kumulatif dunia kerja justru akan mengalami pertumbuhan bersih sebanyak 78 juta pekerjaan.
McKinsey Global Institute menekankan bahwa AI berperan sebagai penggerak transformasi cara kerja manusia, alih-alih sekadar melenyapkan profesi yang ada.
Tugas-tugas yang bersifat repetitif, seperti analisis data dan administrasi rutin, kini telah diambil alih sepenuhnya oleh sistem otomatis.
Pergeseran ini menuntut para pekerja untuk lebih mengedepankan kemampuan bernalar, kreativitas, serta pengambilan keputusan yang bersifat strategis.
Sejumlah profesi tradisional pun beradaptasi, misalnya tenaga administrasi yang kini mengandalkan AI untuk mengelola dokumen dan menyusun laporan.
Dalam sektor pemasaran, AI hanya berfungsi sebagai alat bantu konsep, sementara strategi mendalam dan pemahaman perilaku konsumen sepenuhnya tetap menjadi ranah manusia.
Bidang-bidang krusial seperti kesehatan, pendidikan, hukum, hingga manufaktur kini menitikberatkan peran manusia pada aspek empati, tanggung jawab profesional, serta penilaian etis.
Inovasi teknologi turut melahirkan posisi karier baru yang semakin spesifik, seperti AI Trainer, Prompt Specialist, hingga AI Ethics and Governance Specialist.
Kebutuhan pasar akan tenaga ahli di bidang robotika, keamanan siber, dan profesional energi terbarukan diprediksi akan melonjak signifikan.
Upaya meningkatkan keterampilan atau upskilling menjadi kunci mutlak bagi setiap pekerja agar mampu bertahan di tengah arus perubahan dunia profesional yang kian cepat.






