BisnisEnergiNews

Harga Pertamax Naik Memicu Migrasi Konsumen ke Pertalite

98
×

Harga Pertamax Naik Memicu Migrasi Konsumen ke Pertalite

Sebarkan artikel ini
10-persen-konsumen-pertamax-diproyeksi-pindah-ke-pertalite
10 Persen Konsumen Pertamax Diproyeksi Pindah ke Pertalite

Jakarta – Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter diprediksi akan memicu gelombang migrasi konsumen ke Pertalite. Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memproyeksikan volume penjualan Pertamax bakal terkoreksi hingga 10 persen akibat peralihan tersebut.

Yayan mengungkapkan bahwa masyarakat cenderung enggan mengurangi mobilitas meskipun harga BBM nonsubsidi melonjak. Sebaliknya, konsumen lebih memilih beralih ke pilihan yang lebih murah karena adanya selisih harga mencapai Rp6.250 per liter, yang tercatat sebagai gap tertinggi sepanjang sejarah.

“Belajar dari pengalaman April 2022, ketika Pertamax naik 39 persen dan sekitar satu dari delapan orang pembeli pindah ke Pertalite, kami perkirakan penjualan Pertamax turun sekitar 10 persen,” ujar Yayan, Minggu (14/6/2026).

Meski perpindahan konsumen tak terhindarkan, Yayan memastikan kuota Pertalite nasional masih sangat mencukupi. Menurut hitungannya, migrasi pengguna Pertamax hanya akan menyerap sekitar sepertiga dari sisa kuota yang ada saat ini.

Dampak kebijakan ini dirasakan secara variatif oleh berbagai lapisan masyarakat. Pengguna mobil dengan konsumsi 100 liter per bulan kini harus menanggung beban tambahan sekitar Rp395 ribu, sementara pengendara sepeda motor menghadapi kenaikan pengeluaran sekitar Rp119 ribu per bulan.

Berdasarkan analisis sistem Desil kesejahteraan, kelompok rumah tangga termiskin atau Desil 1 dipastikan tidak terdampak langsung karena mereka bukan konsumen Pertamax. Sebaliknya, kelompok menengah hingga menengah atas (Desil 5-9) diprediksi menjadi golongan yang paling agresif berpindah ke Pertalite untuk menekan biaya operasional.

Beban ekonomi terbesar justru tertuju pada kelompok rumah tangga terkaya (Desil 10). Hal ini disebabkan oleh kewajiban penggunaan BBM nonsubsidi bagi armada perusahaan, serta kendaraan operasional di sektor tambang dan perkebunan.

“Singkatnya, sekitar separuh dari total beban kenaikan ini ditanggung oleh 20 persen rumah tangga terkaya. Kenaikan Pertamax bekerja seperti pajak yang lebih banyak menyasar orang mampu,” jelas Yayan.

Menanggapi potensi pergeseran konsumsi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan Pertalite tetap aman di pasaran. Pihak perusahaan menegaskan bahwa distribusi di seluruh jaringan SPBU berjalan normal sesuai dengan penugasan pemerintah dan tidak mengalami kelangkaan.