EkonomiNewsTransportasi

PT KAI Percepat Proyek Reaktivasi Jalur Kereta Api Sumatra

94
×

PT KAI Percepat Proyek Reaktivasi Jalur Kereta Api Sumatra

Sebarkan artikel ini
pt-kai-percepat-reaktivasi-jalur-kereta-api-di-sumbar
PT KAI Percepat Reaktivasi Jalur Kereta Api di Sumbar

Padang – Pemerintah melalui PT KAI mulai menggarap proyek strategis Trans Sumatra Railways sebagai perwujudan visi konektivitas Presiden Prabowo Subianto dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung.

Inisiatif ini bertujuan mengefisiensikan biaya logistik nasional dengan menempatkan Sumatra Barat sebagai poros utama operasional jalur barat.

Presiden Prabowo secara tegas menginstruksikan agar jalur kereta tersebut menjadikan Kota Padang sebagai titik sentral konektivitas wilayah.

Reaktivasi rel di Sumatra Barat telah dirancang dalam dua fase pengerjaan untuk menjangkau berbagai kawasan strategis.

Tahap pertama akan menghubungkan rute Kayu Tanam, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh, hingga Limbanang.

Lanjutan tahap kedua nantinya membentang dari Padang Panjang menuju Singkarak, Solok, Muaro Kalaban, sampai ke Sawahlunto.

Anggota DPR RI asal Sumatra Barat, Andre Rosiade, menilai proyek ini sangat mendesak demi mengatasi kemacetan parah di jalur darat yang kian meningkat setiap tahunnya.

Andre menambahkan bahwa kapasitas jalan raya saat ini tidak lagi memadai menampung pertumbuhan volume kendaraan di rute Padang menuju Bukittinggi dan Payakumbuh.

Tingginya minat masyarakat terhadap moda transportasi kereta api terlihat dari kenaikan jumlah penumpang yang mencapai rata-rata 16 persen per tahun.

PT KAI memproyeksikan pengguna jasa kereta api di Sumatra Barat akan mencapai 1,9 juta orang pada 2025 mendatang.

Saat ini, perusahaan sedang mengebut penyelesaian Detailed Engineering Design (DED) yang ditargetkan tuntas paling lambat Oktober tahun ini.

Sterilisasi lahan dan sosialisasi kepada warga dijadwalkan bergulir pada awal 2027, dengan target operasional penuh tercapai sebelum 2029.

Tantangan utama yang dihadapi KAI adalah pembersihan 11.000 hektar aset lahan perusahaan yang saat ini masih diduduki bangunan liar.

Pihak manajemen tetap optimistis proyek berjalan lancar karena status hukum lahan tersebut sudah sepenuhnya berada di bawah kendali mereka.

Selain mengangkut penumpang, jalur ini akan difungsikan untuk pengiriman jutaan ton batu bara dari tambang PTBA di Sawahlunto mulai 2027.

Sektor pariwisata juga bakal didukung melalui penyediaan armada eksklusif seperti Nusantara Explorer dan layanan kereta panoramik bagi wisatawan.