JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tertekan pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (13/7). Mata uang Garuda dibuka melemah 0,14% atau 27 poin ke level Rp 18.092 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.
Tekanan terhadap rupiah berlanjut hingga pukul 09.15 WIB. Kurs rupiah tercatat melemah lebih dalam sebesar 0,33% atau 59 poin ke posisi Rp 18.124 per dolar AS.
Pelemahan ini kontras dengan performa perdagangan akhir pekan lalu. Pada Jumat (10/7), rupiah sempat ditutup menguat 0,35% atau 63 poin ke level Rp 18.065 per dolar AS.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama fluktuasi pasar saat ini. Konflik yang kembali memanas telah mendongkrak harga minyak mentah dunia secara signifikan.
Lonjakan harga komoditas energi tersebut memicu sentimen penghindaran risiko atau risk-off di pasar keuangan global. Investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven), termasuk dolar AS, yang menekan mata uang negara berkembang.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah akan terus berada dalam tekanan sepanjang hari ini. Ia memprediksi rentang pergerakan rupiah berada pada kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.150 per dolar AS.
Selain faktor geopolitik, pasar saat ini tengah mencermati dinamika kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Fokus investor tertuju pada potensi perubahan arah kebijakan moneter di bawah pengaruh figur baru seperti Kevin Warsh.
Pembentukan sejumlah task force oleh Kevin Warsh dinilai mampu mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga acuan. Pelaku pasar kini menanti pernyataan resmi Warsh di hadapan Kongres AS untuk mendapatkan kejelasan kebijakan.
Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, turut menyoroti besarnya pengaruh faktor eksternal tersebut. Ia memperkirakan rupiah memiliki potensi depresiasi lebih lanjut hingga menyentuh level Rp 18.080 per dolar AS.
Kombinasi antara ketidakpastian kebijakan moneter The Fed dan eskalasi konflik di Timur Tengah menciptakan tantangan bagi stabilitas nilai tukar nasional. Permintaan yang tinggi terhadap dolar AS sebagai safe haven menjaga mata uang tersebut tetap perkasa di pasar spot.
Hingga saat ini, pelaku pasar masih menahan diri untuk melakukan transaksi besar sembari menunggu perkembangan lebih lanjut dari Washington. Fokus utama investor tetap tertuju pada sinyal kebijakan ekonomi yang akan disampaikan oleh otoritas moneter AS.
Volatilitas harga minyak mentah juga terus dipantau karena dampaknya yang langsung terhadap tekanan inflasi global. Ketidakpastian ini diperkirakan masih akan membayangi pergerakan pasar keuangan domestik dalam beberapa hari ke depan.







