SAUMLAKI – Proyek strategis nasional Lapangan Gas Abadi Blok Masela resmi memasuki tahap pembangunan fisik melalui seremoni groundbreaking yang berlangsung pada Kamis (17/7/2026). Langkah ini menandai dimulainya eksekusi proyek migas bernilai US$20 miliar atau setara Rp360 triliun setelah melalui penantian panjang selama 28 tahun.
Proyek yang terletak di Laut Arafura ini diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung produksi gas nasional di masa depan. Pemerintah menargetkan kapasitas produksi mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD), serta 35 ribu barel kondensat per hari.
Pembangunan fisik tahap awal mencakup infrastruktur pendukung utama di darat. Pekerjaan meliputi pembangunan jalan akses, pelabuhan, fasilitas penyimpanan, dan area pendukung lainnya.
Selain fasilitas darat, kontraktor akan memulai pengerjaan jaringan pipa bawah laut. Jalur pipa tersebut akan membentang sepanjang 180 kilometer dengan kedalaman mencapai 1.000 meter di bawah permukaan laut.
Blok Masela mencatat sejarah sebagai proyek LNG pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sejak awal pengembangan. Integrasi teknologi ini menjadi komitmen pemerintah dalam menekan emisi karbon di sektor hulu migas.
Proyek ini terikat kontrak yang berlaku hingga 15 November 2055. Kepemilikan saham saat ini dipegang oleh Inpex Masela Ltd. sebagai operator, bersama PT Pertamina Hulu Energi dan Petronas Masela Sdn. Bhd.
Perjalanan panjang proyek ini sempat terhambat oleh perdebatan skema pengembangan antara kilang terapung atau di darat. Pada 2016, pemerintah memutuskan fasilitas harus dibangun di darat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Maluku dan wilayah Indonesia Timur.
Hambatan kembali muncul saat Shell selaku mitra strategis memutuskan hengkang dari proyek pada 2020. Proses pengalihan saham kepada Pertamina dan Petronas baru tuntas pada 2023, yang kemudian mempercepat revisi rencana pengembangan (Plan of Development).
Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan SKK Migas terus memberikan tekanan agar operator segera mencapai keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID). Tender paket utama telah dipercepat agar menjadi acuan angka indikatif bagi FID yang ditargetkan rampung akhir 2026.
Strategi komersialisasi gas kini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan domestik sebesar 60%. Sisanya akan dipasarkan ke luar negeri untuk menjaga keekonomian proyek.
Pemerintah berkomitmen menjadikan Blok Masela sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan industri hilir. Rencananya, gas dari lapangan ini akan memasok kebutuhan industri pupuk dan blue ammonia.
Namun, para pengamat menilai tantangan investasi dan pasar masih membayangi keberlanjutan proyek. Kepastian kontrak pembelian jangka panjang menjadi kunci utama bagi kelayakan ekonomi proyek di tengah dinamika pasar LNG global.
Keberhasilan integrasi teknologi CCS juga menjadi sorotan penting dalam agenda transisi energi Indonesia. Efektivitas teknologi tersebut akan diuji secara nyata setelah fasilitas beroperasi penuh pada akhir dekade ini.






