Energi

Harga Minyak Brent Tembus US$90 per Barel Akibat Konflik Selat Hormuz

98
×

Harga Minyak Brent Tembus US$90 per Barel Akibat Konflik Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Kilang minyak dengan pipa-pipa industri dan instalasi penyulingan di bawah langit cerah.
Harga minyak mentah Brent melonjak hingga menembus US$90 per barel akibat konflik di Selat Hormuz.

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada Senin, 20 Juli 2026, dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hampir 4 persen dan bertahan di atas level US$90 per barel, angka tertinggi sejak pertengahan Juni lalu.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat bergerak di kisaran US$84 per barel. Lonjakan harga ini merespons kegagalan gencatan senjata antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran global akan gangguan pasokan energi yang lebih parah.

Komando Pusat AS melaporkan telah melancarkan serangan selama sembilan malam berturut-turut ke wilayah Iran guna menekan kemampuan militer negara tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial dan pelaut sipil di jalur perdagangan vital Timur Tengah.

Situasi keamanan di Selat Hormuz memburuk setelah Angkatan Laut Iran mengklaim telah menghentikan empat kapal yang dianggap melintasi rute tidak aman. Dua dari kapal tersebut dilaporkan mengalami kecelakaan, sementara dua lainnya terpaksa memutar balik setelah menerima peringatan.

Di sisi lain, Operasi Perdagangan Maritim Inggris menerima laporan mengenai sebuah kapal yang mengalami kebakaran di barat laut Kumzar, Oman. Hingga saat ini, otoritas terkait masih melakukan verifikasi mendalam mengenai penyebab insiden tersebut.

Konflik kini meluas hingga menargetkan infrastruktur sipil dan energi, termasuk fasilitas minyak milik Kuwait Petroleum Corp yang mengalami kerusakan signifikan akibat serangan Iran pada Sabtu lalu. Serangan serupa juga menyasar wilayah Bahrain dan memicu intersepsi drone di perbatasan Israel-Suriah.

Analis energi senior di MST Marquee, Saul Kavonic, menilai intensitas serangan yang semakin meningkat menandakan potensi durasi konflik yang lebih panjang. Menurutnya, penargetan infrastruktur minyak secara langsung akan mempercepat kenaikan harga di pasar global.

Ketegangan di Timur Tengah diperburuk dengan ancaman dari kelompok militan Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Gangguan di Laut Merah dan Selat Hormuz ini terjadi di tengah kondisi cadangan minyak global yang berada pada titik terendah dalam sejarah menurut catatan JPMorgan Chase & Co.

Pemerintah AS kini menerapkan blokade pada jalur perairan Hormuz untuk menjamin keamanan pengiriman kargo. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa meskipun volume kapal yang melintas menurun, tanker berukuran besar masih tetap beroperasi melalui jalur tersebut.

Di tengah ketidakpastian ini, para analis mulai melakukan penyesuaian proyeksi harga. Citigroup sebelumnya memprediksi harga minyak berpotensi turun ke level US$60 jika lalu lintas di Selat Hormuz kembali normal, namun prospek tersebut bergantung penuh pada stabilitas geopolitik yang saat ini masih sangat rapuh.