Agam – Pencemaran Sungai Tungguo Buto di Jorong Padang Koto, Nagari Salareh Aia Utara, kini mencapai titik yang sangat meresahkan warga setempat.
Dugaan kebocoran limbah dari pabrik kelapa sawit PT Palalu Raya menjadi penyebab utama berubahnya kondisi air sungai menjadi pekat, berbusa, dan berbau tajam.
Kondisi tersebut memaksa warga setempat menghentikan penggunaan air sungai untuk kebutuhan harian seperti mandi, mencuci, dan memasak.
Walinagari Salareh Aia Utara, Zulkifli, menyatakan bahwa warga harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air galon dan membuat sumur bor karena air tanah di area tersebut telah ikut tercemar.
Sektor ekonomi warga pun terpuruk akibat musibah lingkungan ini, dengan rincian 50 hektar sawah gagal tanam dan 100 hektar kebun sawit mengalami kerusakan serius.
Selain masalah limbah, Kasi Kesejahteraan Nagari, Jefridel, menyoroti kerusakan infrastruktur akibat aktivitas operasional pabrik, termasuk rusaknya jembatan penghubung yang sudah tujuh kali roboh.
Pihak perusahaan dinilai telah mengabaikan kesepakatan tertulis tahun 2014 yang mewajibkan penyediaan sarana air bersih dan perbaikan irigasi bagi warga sekitar.
Upaya media untuk mendapatkan klarifikasi dari PT Palalu Raya gagal total lantaran ketiadaan pihak humas yang bersedia memberikan keterangan resmi.
Anggota DPRD Agam, Rahmat Rifai Koto, melontarkan kecaman keras atas sikap perusahaan yang dianggap abai terhadap penderitaan masyarakat.
Ia mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tingkat kabupaten dan provinsi untuk segera mengambil tindakan tegas mengingat pencemaran ini terjadi berulang kali.
Ketua LSM Garuda Nasional Indonesia DPW Sumbar, Rahmatsyah, turut menuntut pemerintah segera melakukan uji laboratorium terhadap sampel limbah tersebut.
Langkah ini dianggap krusial untuk mencegah jatuhnya korban jiwa akibat gangguan pencernaan maupun penyakit kulit.
Rahmatsyah menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan investigasi mandiri sebagai wujud pengawasan ketat terhadap pelanggaran lingkungan yang merugikan publik.






