JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi mengalami koreksi akibat aksi lepas saham di sektor semikonduktor.
Tekanan pada sektor teknologi dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terkait besarnya belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Sentimen ini membuat indeks teknologi S&P 500 melemah 0,88% pada penutupan perdagangan.
Kekhawatiran pasar muncul setelah raksasa teknologi seperti Alphabet melaporkan lonjakan belanja modal yang signifikan untuk ekspansi AI. Investor kini mulai mempertanyakan efektivitas investasi tersebut dalam menghasilkan keuntungan nyata dalam jangka pendek.
Peter Andersen, CEO Andersen Capital Management, menilai fenomena fear of missing out (FOMO) di pasar modal kini bergeser menjadi kekhawatiran akan pembangunan infrastruktur AI yang berlebihan. Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati menjelang rilis laporan keuangan Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple pekan depan.
Saham Intel menjadi salah satu yang terdampak paling dalam dengan penurunan sebesar 7,9%. Pelemahan ini turut menyeret indeks semikonduktor Philadelphia (SOX) yang merosot hingga 4,5%.
Secara keseluruhan, indeks Nasdaq Composite turun 161,87 poin atau 0,64% menjadi 24.975,82. Sementara itu, indeks S&P 500 hanya mampu menguat tipis 3,68 poin atau 0,05% ke level 7.411,98.
Berbeda dengan Nasdaq, Dow Jones Industrial Average justru berhasil mencatatkan kenaikan 235,60 poin atau 0,46% ke posisi 51.947,25. Namun, secara mingguan, Dow Jones tetap melemah 0,4% dan mencatatkan penurunan selama tiga pekan beruntun.
Sektor properti menjadi penopang utama S&P 500 dengan penguatan sebesar 2,4%. Kenaikan ini dipimpin oleh lonjakan saham Digital Realty Trust sebesar 11% setelah perusahaan merevisi naik proyeksi dana operasional tahunan.
Sektor material juga mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan 1,44%. International Paper menjadi pemimpin di sektor ini dengan lonjakan harga saham mencapai 11,2%.
Sentimen positif lainnya datang dari penurunan harga minyak mentah sekitar 3% akibat aksi ambil untung oleh investor. Penurunan ini memberikan sedikit ruang napas bagi pasar meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih berlangsung.
Pemerintahan Presiden Donald Trump juga menjadi perhatian pasar setelah menetapkan tarif baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap produk dari 60 mitra dagang. Kebijakan ini diterapkan dengan alasan lemahnya penegakan larangan penggunaan tenaga kerja paksa.
Data ekonomi menunjukkan aktivitas sektor jasa Amerika Serikat pada Juli mengalami peningkatan yang didorong oleh belanja masyarakat. Sebaliknya, aktivitas manufaktur justru melambat dan mencatat pertumbuhan terendah sejak Maret.






