Fintech

Konflik AS-Iran Tekan Harga Bitcoin di Tengah Ketidakpastian Pasar

17
×

Konflik AS-Iran Tekan Harga Bitcoin di Tengah Ketidakpastian Pasar

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga Bitcoin yang sedang mengalami penurunan di tengah layar monitor komputer
Harga Bitcoin mengalami tekanan akibat ketidakpastian pasar yang dipicu oleh konflik Amerika Serikat dan Iran.

JAKARTA – Harga Bitcoin (BTC) masih dihadapkan pada ketidakpastian pasar akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus membebani prospek aset kripto tersebut. Berdasarkan data Coin Market Cap pada Minggu (26/7/2026) pukul 08.30 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 64.433 dengan koreksi 0,46% dalam sepekan terakhir.

Secara akumulatif, nilai Bitcoin telah terkoreksi sekitar 26,30% sejak awal tahun atau year to date (ytd). Posisi harga saat ini tercatat masih berada sekitar 50% di bawah rekor tertinggi sebelumnya yang sempat menembus angka US$ 126.000.

Para analis menilai bahwa kuartal III 2026 akan menjadi fase krusial dengan kecenderungan konsolidasi yang menuntut kehati-hatian investor. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang berimbas pada kenaikan harga minyak mentah Brent hingga mendekati US$ 100 per barel telah memicu sentimen risk-off di pasar global.

Tekanan jual cenderung meningkat ketika inflasi energi melonjak dan ekspektasi terhadap kebijakan moneter ikut terpengaruh. Meski demikian, Bitcoin sering kali menunjukkan stabilitas setelah tekanan awal ketika pelaku pasar mulai meliriknya sebagai aset penyimpan nilai yang independen.

Sinyal dari siklus empat tahun pasca-halving saat ini mengarah pada potensi konsolidasi atau tekanan terbatas. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga arah pasar yang lebih jelas terbentuk menjelang akhir tahun.

Di sisi lain, minat investor institusional mulai menunjukkan sinyal pemulihan melalui arus masuk pada ETF Bitcoin spot. Sepanjang pertengahan Juli, tercatat total inflow sekitar US$ 727 juta dalam lima sesi berturut-turut, yang memberikan dukungan sementara bagi harga.

Analis pasar mencatat bahwa penurunan harga ke area US$ 58.500 pada akhir kuartal II lalu diduga merupakan dampak dari aksi penyesuaian portofolio atau window dressing oleh manajer investasi. Setelah memasuki kuartal baru, tekanan jual dari kalangan institusional tersebut tampak mulai mereda.

Pergerakan harga Bitcoin ke depan akan sangat bergantung pada tiga faktor utama yakni perkembangan konflik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Federal Reserve, dan konsistensi arus dana masuk ke ETF Bitcoin spot. Jika ketegangan geopolitik mereda, selera risiko investor berpotensi kembali dan memberikan ruang pemulihan bagi aset kripto.

Namun, kebijakan suku bunga The Fed tetap menjadi variabel penentu bagi likuiditas pasar aset berisiko. Inflasi yang tetap tinggi berisiko memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan tambahan bagi pasar kripto.

Secara teknis, harga Bitcoin diprediksi akan bergerak di kisaran US$ 60.000 hingga US$ 75.000 pada kuartal III. Skenario terberat dapat membawa harga menguji area US$ 50.000 hingga US$ 57.000 jika tekanan jual kembali meningkat. Sebaliknya, jika kondisi makroekonomi membaik, peluang rebound menuju level US$ 80.000 tetap terbuka lebar.