Ekonomi

Pefindo: Ketidakpastian Ekonomi Tekan Peringkat Kredit Korporasi Indonesia

4
×

Pefindo: Ketidakpastian Ekonomi Tekan Peringkat Kredit Korporasi Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi grafik penurunan peringkat kredit perusahaan di tengah ketidakpastian ekonomi global
Pefindo mencatat peningkatan tekanan terhadap kualitas kredit korporasi Indonesia sepanjang kuartal II 2026.

JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat peningkatan tekanan terhadap kualitas kredit korporasi di Indonesia sepanjang kuartal II 2026. Kondisi ini dipicu oleh tingginya ketidakpastian ekonomi global serta dinamika domestik yang menekan kinerja dunia usaha nasional.

Indikator Pefindo Net Rating Action tercatat merosot ke level -1 pada kuartal tersebut, setelah sebelumnya bertahan di level 0. Penurunan ini mencerminkan dominasi aksi penurunan peringkat (downgrade) terhadap tiga perusahaan, dibandingkan dengan hanya dua perusahaan yang mendapatkan kenaikan peringkat (upgrade).

Data tersebut dihimpun berdasarkan pengamatan terhadap 71 aksi pemeringkatan yang dipublikasikan selama periode tiga bulan terakhir. Peningkatan bias negatif juga terlihat dari bertambahnya jumlah perusahaan yang disematkan outlook negatif serta status CreditWatch oleh pihak pemeringkat.

Risiko geopolitik dan volatilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang dicermati dalam proses evaluasi peringkat korporasi. Fluktuasi mata uang yang sempat menyentuh level Rp18.128 per dolar AS memberikan beban signifikan, terutama bagi perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi pada transaksi valuta asing.

Sektor hilirisasi, seperti industri stainless steel, High Pressure Acid Leaching (HPAL), dan aluminium, dinilai paling terpapar risiko geopolitik serta pelemahan nilai tukar. Selain itu, sektor transportasi, pariwisata, jasa konstruksi, ritel, dan properti juga menghadapi tantangan serupa akibat kondisi ekonomi yang kurang kondusif.

Di sisi lain, Pefindo mengamati adanya potensi kenaikan peringkat bagi perusahaan yang berorientasi ekspor. Sektor minyak dan gas hulu serta pertambangan emas menjadi perhatian khusus karena dinilai lebih tahan terhadap guncangan eksternal.

Sektor perkebunan juga diproyeksikan akan mencatatkan kinerja yang lebih solid. Kebijakan implementasi B50 dinilai mampu menjaga permintaan industri perkebunan tetap stabil di tengah ketidakpastian pasar.

Terlepas dari tekanan pada kuartal II, distribusi peringkat secara keseluruhan pada semester pertama 2026 justru menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini tercermin dari meningkatnya persentase perusahaan yang masuk dalam kategori layak investasi atau investment grade.

Tren afirmasi peringkat terhadap keseluruhan aksi pemeringkatan juga mengalami kenaikan, yang menunjukkan stabilitas kinerja perusahaan di Indonesia masih terjaga dengan relatif baik. Pefindo mencatat tingkat gagal bayar, baik berdasarkan penerbit maupun nilai instrumen, mengalami penurunan pada kuartal II 2026.

Tekanan ekonomi ini terjadi seiring dengan laporan defisit APBN Semester I 2026 yang mencapai Rp196,5 triliun. Pemerintah menyatakan defisit tersebut masih berada dalam batas aman, yakni setara 0,76 persen terhadap produk domestik bruto.

Stabilitas korporasi nasional ke depan diperkirakan masih akan bergantung pada respons dunia usaha terhadap volatilitas pasar global. Pefindo terus memantau perkembangan sektor-sektor strategis guna memastikan akurasi pemeringkatan di tengah situasi ekonomi yang dinamis.