Bursa Saham

Bursa Asia Menguat Tipis Mengikuti Reli Wall Street Hari Ini

49
×

Bursa Asia Menguat Tipis Mengikuti Reli Wall Street Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan indeks saham bursa Asia yang mengalami penguatan tipis pada perdagangan Selasa.
Bursa saham Asia bergerak menguat tipis mengikuti reli pasar di Wall Street.

JAKARTA – Bursa saham Asia bergerak menguat tipis pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Pergerakan positif ini didorong oleh sentimen reli di Wall Street serta rilis data aktivitas manufaktur Amerika Serikat yang mencatatkan pertumbuhan signifikan.

Indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang terpantau naik 0,1% pada awal sesi. Penguatan ini terutama ditopang oleh lonjakan saham di Korea Selatan yang sempat mencatatkan kenaikan hingga 2,1%.

Sebaliknya, indeks Nikkei 225 di Jepang justru terkoreksi 0,3%. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 E-mini menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,1%.

Optimisme pelaku pasar dipicu oleh data manufaktur AS bulan Juli yang mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini membawa indeks Dow Jones Industrial Average ditutup pada rekor tertinggi sebelumnya.

Chris Weston, Head of Research Pepperstone Group, menyatakan bahwa sentimen pasar aset berisiko mulai berbalik arah. Ia menambahkan bahwa tren positif dari bursa Eropa dan AS berpotensi menjaga antusiasme investor di kawasan Asia.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent mencatat kenaikan terbatas sebesar 0,6% ke level US$ 84,29 per barel. Sebelumnya, harga minyak sempat tertekan ke level terendah dalam tiga pekan terakhir.

Stabilitas harga minyak terjadi di tengah belum adanya perkembangan berarti terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan penundaan serangan sebagai upaya diplomasi, namun pihak Iran membantah adanya negosiasi.

Pada pasar valuta asing, dolar AS terpantau menguat 0,3% terhadap yen Jepang ke level 157,625. Penguatan ini terjadi setelah intervensi terkoordinasi antara pemerintah AS dan Jepang pekan lalu sempat menekan posisi dolar.

US Dollar Index (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia bertahan di kisaran 99,99. Angka tersebut tercatat mendekati level terendah dalam dua bulan terakhir.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan tipis sebesar 0,2 basis poin menjadi 4,684%. Pelaku pasar saat ini masih mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, terdapat probabilitas sebesar 65% kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September mendatang. The Fed tetap memantau tekanan inflasi sebagai acuan utama kebijakan.

Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menegaskan komitmen bank sentral untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tidak melambat sesuai target. Sementara itu, di pasar aset kripto, Bitcoin melemah 0,5% ke level US$ 63.446,35.

Kinerja Ether juga mencatatkan penurunan serupa sebesar 0,5% menjadi US$ 1.857,44. Investor kini menanti laporan kinerja emiten sebagai katalis baru dalam perdagangan di bursa saham regional.