JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan Jumat (31/7/2026) pagi, dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Pada pukul 07.16 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2026 di New York Mercantile Exchange tercatat berada di level US$ 84,02 per barel. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,51% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di posisi US$ 83,59 per barel.
Lonjakan harga ini menempatkan komoditas energi tersebut dalam jalur kenaikan bulanan tertinggi sejak Maret 2026. Kondisi pasar global semakin tertekan setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim serangan terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah serta fasilitas minyak lainnya.
Dampak dari konflik yang meluas ini telah mendorong harga minyak mentah acuan Brent menembus level psikologis US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei 2026. Sementara itu, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terus menurun ke level terendah akibat meningkatnya ancaman keamanan.
Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump kini merespons situasi tersebut dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran. Sanksi ini menargetkan perusahaan asuransi serta sejumlah armada kapal tanker sebagai bagian dari strategi tekanan ekonomi dan operasi militer.
Arab Saudi saat ini tengah mengupayakan pembentukan aliansi internasional yang melibatkan 43 negara. Langkah ini bertujuan untuk mengamankan navigasi di Laut Merah serta melawan blokade yang dilakukan oleh kelompok militan Houthi.
Ketidakpastian geopolitik ini turut berdampak signifikan terhadap pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat sore ditutup melemah 118,88 poin ke level 6.196,43, mengekor tren negatif bursa saham di kawasan Asia.
Tekanan juga dirasakan oleh nilai tukar rupiah yang melemah ke posisi Rp 17.979 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi. Pelemahan mata uang ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga energi dunia yang dapat membebani defisit neraca perdagangan.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memperingatkan adanya risiko guncangan harga minyak yang berpotensi memicu resesi ekonomi global. Meski demikian, dampak tersebut dinilai masih dapat dimoderasi jika akses melalui Selat Hormuz kembali dibuka secara normal.
Analis pasar dari Infrastructure Capital Management LLC, Jay Hatfield, memproyeksikan harga minyak WTI akan terus bergerak di kisaran US$ 80 hingga US$ 100 per barel selama konflik bersenjata masih berlangsung. Pasar kini menanti langkah balasan selanjutnya dari Amerika Serikat terkait ancaman yang dilontarkan oleh kelompok Houthi.
Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, sektor energi di Indonesia menunjukkan ketahanan kinerja keuangan. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 29% pada semester I-2026, mencerminkan adanya diversifikasi dalam portofolio energi di tengah volatilitas harga minyak fosil.






