Jakarta – Krisis bahan bakar minyak (BBM) global akibat konflik di Timur Tengah memaksa sejumlah negara Asia mengambil langkah-langkah ekstrem.
Gangguan rantai pasok energi, terutama di Selat Hormuz, mendorong negara-negara ini melakukan penghematan, mengatur mobilitas, hingga memberikan bantuan langsung kepada masyarakat.
Berikut rangkuman kebijakan yang diambil beberapa negara untuk mengatasi krisis energi:
Korea Selatan:
* Kampanye hemat energi nasional dipimpin langsung oleh Presiden.
* Pembatasan penggunaan kendaraan operasional pemerintah.
* Percepatan pencairan anggaran darurat untuk membantu warga terdampak kenaikan harga energi.
Jepang:
* Melepas cadangan minyak strategis secara bertahap sejak pertengahan Maret.
* Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi karena Jepang sangat bergantung pada impor.
China:
* Intervensi harga BBM domestik,langkah yang jarang dilakukan.
* Menaikkan batas harga bensin dan solar, namun tetap dikendalikan agar tidak membebani masyarakat.
Sri Lanka:
* Menetapkan hari Rabu sebagai hari libur bagi instansi pemerintah, sekolah, dan universitas.
* Tujuannya mengurangi konsumsi energi dan menjaga layanan publik tetap berjalan.
Pakistan:
* Pekan kerja empat hari.
* Penutupan sekolah.
* Kebijakan bekerja dari rumah (WFH) hingga 50 persen.
* Pemangkasan alokasi BBM untuk instansi pemerintah.
India:
* Perusahaan menerapkan WFH dan mengurangi layanan kantin.
* Mendorong penggunaan kendaraan listrik dan energi alternatif.
Thailand:
* Pegawai diimbau menggunakan pakaian kasual untuk mengurangi penggunaan AC.
* Pengaturan suhu AC lebih tinggi, pembatasan penggunaan lift, dan anjuran carpooling.
Myanmar:
* Penerapan sistem ganjil-genap untuk kendaraan, kecuali kendaraan listrik.
Bangladesh:
* Penutupan universitas lebih awal menjelang Idulfitri untuk mengurangi konsumsi energi.
Filipina dan Vietnam:
* Filipina menerapkan pekan kerja empat hari untuk pegawai pemerintah dan mendorong WFH di sektor swasta.
* Vietnam mengimbau perusahaan WFH, menggunakan transportasi publik, dan mengurangi perjalanan non-esensial.
Selandia Baru:
* Subsidi tunai sekitar US$50 per minggu kepada lebih dari 140 ribu keluarga berpenghasilan rendah hingga menengah.
Indonesia:
* Pemerintah mengkaji kebijakan work from anywhere (WFA) untuk menekan konsumsi BBM.
* Menkeu menilai WFA berpotensi mengurangi mobilitas masyarakat setelah libur Lebaran.
* Kebijakan ini masih dalam tahap pembahasan dan akan difokuskan pada sektor yang memungkinkan kerja fleksibel.
Krisis energi ini menyoroti tingginya ketergantungan Asia terhadap impor minyak dan gas.







