News

BMKG: El Nino Menguat dan Berpotensi Bertahan Hingga Awal 2027

136
×

BMKG: El Nino Menguat dan Berpotensi Bertahan Hingga Awal 2027

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meningkatkan status prediksi fenomena El Nino tahun ini dari kategori lemah-moderat menjadi moderat hingga kuat. Revisi ini didasarkan pada pemantauan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang telah melampaui ambang batas netral sebesar 1,0°C selama lima dasarian berturut-turut, terhitung sejak April dasarian II hingga Mei dasarian III.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa indikator suhu tersebut mengonfirmasi fase El Nino moderat saat ini. Berdasarkan skala pengukuran BMKG, suhu permukaan laut 1,0°C hingga 1,4°C dikategorikan sebagai El Nino moderat, sementara rentang 1,5°C hingga 1,9°C masuk dalam kategori kuat, dan di atas 2,0°C diklasifikasikan sebagai El Nino sangat kuat.

Data terbaru menunjukkan peluang terjadinya El Nino kategori moderat mencapai 98 persen, sedangkan potensi El Nino kategori kuat berada di angka 62 persen. Fenomena ini diprediksi akan aktif dalam waktu dekat dan berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027.

Selain El Nino, BMKG turut memantau perkembangan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia. Saat ini, indeks IOD tercatat sebesar -0,56°C. Namun, terdapat probabilitas kuat munculnya IOD positif pada periode Juli hingga November 2026. Sinergi antara El Nino dan IOD positif diprediksi akan memicu musim kemarau yang lebih kering dan berkepanjangan bagi wilayah Indonesia.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September mendatang. Dampaknya, sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, diprediksi akan mengalami akumulasi curah hujan musiman di bawah normal. Secara keseluruhan, hampir separuh wilayah daratan Indonesia berpotensi menghadapi durasi musim kemarau yang lebih panjang dari rata-rata normal.

Menghadapi tantangan cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera mengaktifkan mekanisme respons cepat. Fokus utama antisipasi diarahkan pada potensi penurunan kualitas udara yang dapat memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), mengingat minimnya curah hujan akan menghambat proses pembersihan udara secara alami.

Kesiapsiagaan juga harus ditingkatkan terhadap risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah diminta segera melakukan langkah preventif, seperti revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi air untuk menjamin kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama masa kemarau panjang.

Meski El Nino diperkirakan bertahan hingga Januari 2027, BMKG memproyeksikan beberapa wilayah, khususnya sebagian besar Pulau Sumatra, mulai memasuki fase peralihan ke musim hujan pada akhir Oktober. Kendati demikian, curah hujan pada periode tersebut diprediksi belum mencapai intensitas tinggi akibat pengaruh El Nino yang masih berlangsung. Meski begitu, ketersediaan air diharapkan tetap mencukupi untuk mendukung aktivitas sektor pertanian yang membutuhkan pasokan air berkelanjutan.