Tutup
Regulasi

Emiten Potensial Terdampak Program MBG 2026: Daftar & Analisis

828
×

Emiten Potensial Terdampak Program MBG 2026: Daftar & Analisis

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Pemerintah mengalokasikan anggaran fantastis sebesar Rp 335 triliun untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun 2026. Angka ini melonjak tajam dibandingkan alokasi tahun sebelumnya, yang hanya sebesar Rp 171 triliun. Program andalan ini menargetkan 82,9 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia pada tahun 2026.

Kenaikan anggaran MBG ini menjadi angin segar bagi sejumlah sektor.

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, menilai, kenaikan signifikan ini menunjukkan komitmen pemerintah menjadikan program ini prioritas. Hal ini berpotensi memicu efek domino positif ke sektor pangan primer, terutama unggas.

Danantara, perusahaan investasi, juga melihat peluang ini. Mereka berencana berinvestasi di sektor unggas mulai Januari 2026, dengan alokasi dana hingga Rp 20 triliun. Dana ini akan digunakan untuk skema pembiayaan peternak mitra, yang berpotensi meningkatkan permintaan DOC (Day Old Chick) dan pakan ternak dari emiten unggas besar.

Lantas, emiten mana saja yang berpotensi diuntungkan?

Menurut Ratih, JPFA (Japfa Comfeed Indonesia) dan CPIN (Charoen Pokphand Indonesia) menjadi kandidat utama.

JPFA, dengan kontribusi pendapatan 40% dari pakan ternak dan 32% dari penjualan DOC, berpeluang mencatat pertumbuhan pendapatan signifikan berkat program MBG dan sinergi dengan Danantara.

CPIN, sebagai pemimpin pasar pakan ternak (32%) dan DOC (38%), juga berada di posisi strategis untuk memanfaatkan lonjakan permintaan.

“Selain unggas, sektor pangan primer lain seperti produk *dairy* juga berpotensi merasakan dampak positif, mengingat kebutuhan MBG diperkirakan dapat meningkatkan permintaan susu hingga sekitar 8 ton per tahun,” jelas Ratih.

Namun, potensi ini belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan harga saham sektor terkait. Realisasi belanja MBG oleh pemerintah dan kejelasan skema investasi Danantara akan menjadi katalis penting.

Investor juga perlu mewaspadai risiko fluktuasi nilai tukar rupiah, terutama dengan kondisi rupiah JISDOR yang sempat menyentuh Rp16.800/USD. Ketergantungan industri unggas pada bahan baku impor dapat meningkatkan biaya produksi dan menekan margin keuntungan emiten.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menambahkan bahwa program ini akan mendorong peningkatan permintaan bahan pangan, distribusi logistik, hingga jasa pendukung. Emiten di rantai pasok terkait berpeluang mencatat pertumbuhan pendapatan yang lebih stabil.

Sejumlah emiten di sektor *consumer staples* dan pengolahan makanan seperti produsen beras, protein, dan makanan olahan serta sektor peternakan, perikanan, hingga logistik dan distribusi dinilai berpotensi menjadi penerima manfaat utama.

Beberapa contoh saham yang disebut berpotensi diuntungkan antara lain PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF).

Hari mengingatkan investor untuk bersikap selektif dengan fokus pada emiten yang memiliki eksposur langsung, kapasitas produksi memadai, dan margin yang tetap terjaga.

“Perlu dicermati juga risiko keterlambatan realisasi anggaran, tekanan margin akibat kenaikan biaya bahan baku, serta potensi *price-in* di saham-saham terkait,” kata Hari.

Rekomendasi Saham

Ratih merekomendasikan *buy on weakness* saham JPFA dengan target harga pada resistance Rp 2.750-Rp 2.850 serta mempertimbangkan support di posisi Rp 2.300. Selain itu, ia juga menyarankan akumulasi beli ULTJ di target harga resistance Rp 1.600 dan support Rp 1.370 per saham.