Tutup
Teknologi

Era Baru Perang Siber Dimulai, Indonesia Harus Siap atau Tumbang

118
×

Era Baru Perang Siber Dimulai, Indonesia Harus Siap atau Tumbang

Sebarkan artikel ini
era-baru-perang-siber-dimulai,-indonesia-harus-siap-atau-tumbang
Era Baru Perang Siber Dimulai, Indonesia Harus Siap atau Tumbang

 Lifestyle

Digilife

Rabu, 8 April 2026 – 19:08 WIB

Jakarta, VIVA – Perusahaan keamanan siber Kasperksy menyebut Indonesia merupakan pasar prioritas sehingga mencatat kinerja bisnis positif dengan pertumbuhan penjualan 3 persen secara tahunan (YoY).

Segmen B2C (business to consumer) mencatat hasil yang sangat kuat dengan peningkatan sebesar 48 persen YoY. Lanskap ancaman siber yang terus berkembang berdampak langsung terhadap organisasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mulai dari gangguan operasional, pelanggaran data hingga kerugian finansial dan kerusakan reputasi. Munculnya ancaman siber yang semakin canggih—termasuk Ancaman Berkelanjutan Tingkat Lanjut (Advanced Persistent Threats/APT), serangan berbasis kecerdasan buatan (AI), dan eksploitasi seluler.

Dengan situasi ini, sistem organisasi menghadapi risiko serangan yang lebih tinggi dan membutuhkan pergeseran dari pendekatan keamanan reaktif ke strategi proaktif berbasis intelijen seperti membangun Pusat Operasi Keamanan (Security Operations Center/SOC).

SOC adalah unit organisasi khusus yang bertanggung jawab untuk pemantauan dan pengamanan infrastruktur TI perusahaan secara berkelanjutan. Misi intinya adalah untuk secara proaktif mendeteksi, menganalisis, dan menanggapi ancaman keamanan siber.

Data terbaru Kaspersky menyebut, lebih dari setengah (58 persen) pemimpin dan pengambil keputusan TI di Indonesia percaya bahwa membangun SOC dapat meningkatkan tingkat keamanan siber mereka.

Selain itu, 65 persen perusahaan di negara ini mengakui kemungkinan berencana untuk meningkatkan SOC dengan AI, dengan 53 persen mencatat bahwa peningkatan efektivitas deteksi ancaman siber adalah alasan utama untuk meningkatkan SOC dengan AI.

Studi Kaspersky juga menunjukkan beberapa tantangan tersebut meliputi 47 persen kekurangan data pelatihan berkualitas tinggi, 37 persen kekurangan spesialis AI yang berkualitas dalam tim internal, dan 29 persen kekurangan solusi yang sesuai di pasaran.

Di mata Country Manager Kaspersky Indonesia, Defi Nofitra, seiring dengan meningkatnya ancaman siber yang menargetkan perusahaan-perusahaan di Indonesia, baik dari segi volume maupun kompleksitas, organisasi tidak dapat lagi mengandalkan sistem keamanan yang terfragmentasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, SOC terintegrasi, yang didukung oleh SIEM dan intelijen ancaman real-time, sangat penting untuk memungkinkan deteksi ancaman dini, respons insiden yang cepat, dan menjaga pertahanan bisnis yang berkelanjutan.

“Dengan implementasi SOC terintegrasi maka kami menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat ketahanan siber Indonesia dan melindungi aset digital di tengah lanskap ancaman yang semakin dinamis,” ungkap Defi Nofitra di Jakarta, Rabu, 8 April 2026.

Studi: 100 Persen Perusahaan di Indonesia Siap Terapkan AI Mayoritas perusahaan di Asia Pasifik melihat AI sebagai kunci penguatan SOC. Namun keterbatasan data, talenta, dan biaya masih menjadi hambatan utama implementasi.

VIVA.co.id

5 Februari 2026