Houston – Harga minyak dunia memulai tahun 2026 dengan sentimen negatif, ditutup melemah pada perdagangan Jumat (2/1/2026). Penurunan ini terjadi setelah sepanjang tahun 2025, harga minyak mencatatkan penurunan tahunan terdalam sejak tahun 2020.
Kekhawatiran pasar masih berkutat pada potensi kelebihan pasokan minyak global, di tengah eskalasi berbagai risiko geopolitik. Mulai dari konflik Rusia-Ukraina hingga isu ekspor minyak Venezuela, semuanya menjadi faktor penekan harga.
Pada penutupan perdagangan, harga minyak mentah Brent turun tipis 10 sen menjadi US$ 60,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah 10 sen ke level US$ 57,32 per barel.
Sepanjang tahun 2025, harga Brent dan WTI masing-masing anjlok hampir 20%. Penurunan ini menjadi yang paling tajam sejak 2020. Bahkan, bagi Brent, ini merupakan tahun ketiga berturut-turut mengalami penurunan, rekor terpanjang dalam sejarah.
Di sisi geopolitik, tensi antara Rusia dan Ukraina masih tinggi. Kedua negara saling tuduh melakukan serangan terhadap warga sipil pada Hari Tahun Baru. Meski begitu, perundingan yang dimediasi oleh Presiden AS Donald Trump terus diupayakan untuk mengakhiri konflik yang sudah berjalan hampir empat tahun.
Kyiv dilaporkan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia, dengan tujuan memutus sumber pendanaan Moskow untuk operasi militernya.
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari kebijakan AS terhadap Venezuela. Pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi kepada empat perusahaan dan sejumlah kapal tanker yang disebut beroperasi di sektor minyak Venezuela.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyatakan negaranya terbuka terhadap investasi AS di sektor minyak. Ia juga bersedia bekerja sama dalam pemberantasan narkotika, serta siap menggelar pembicaraan serius dengan Washington.
Selain itu, Trump juga mengancam akan membantu para demonstran di Iran jika aparat keamanan menembaki mereka. Ancaman itu muncul di tengah gelombang kerusuhan yang disebut sebagai tantangan internal terbesar bagi otoritas Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, pasar minyak dinilai relatif tidak bereaksi terhadap berbagai ketegangan tersebut.
“Terlepas dari semua kekhawatiran geopolitik, pasar minyak tampaknya tidak terpengaruh. Harga minyak terkunci dalam kisaran perdagangan jangka panjang, dengan keyakinan bahwa pasokan akan tetap melimpah apa pun yang terjadi,” ujar analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.
Di Timur Tengah, krisis antara dua produsen OPEC, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, terkait konflik Yaman dilaporkan semakin dalam.
Sementara itu, OPEC+ dijadwalkan menggelar pertemuan pada Minggu mendatang. Pelaku pasar secara luas memperkirakan kelompok tersebut akan kembali menahan rencana kenaikan produksi pada kuartal pertama 2026.
Analis Sparta Commodities, June Goh, menilai 2026 akan menjadi tahun penting untuk menilai keputusan OPEC+ dalam menyeimbangkan pasokan global. Ia menambahkan, China diperkirakan terus menambah cadangan minyak mentah pada paruh pertama tahun ini, yang berpotensi menjadi penopang harga.
Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menyebut pergerakan harga yang cenderung datar mencerminkan tarik-menarik antara risiko geopolitik jangka pendek dan fundamental pasar jangka panjang yang masih mengarah pada kelebihan pasokan.







