Bursa Saham

Harga Tembaga Tinggi, Kinerja Emiten Sektor Tembaga Berpotensi Menguat

79
×

Harga Tembaga Tinggi, Kinerja Emiten Sektor Tembaga Berpotensi Menguat

Sebarkan artikel ini
Tumpukan konsentrat tembaga di area pertambangan untuk kebutuhan industri global
Harga tembaga yang tetap berada di level tinggi diproyeksikan akan mendorong kinerja emiten pertambangan sepanjang tahun 2026.

JAKARTA – Emiten sektor pertambangan tembaga diproyeksikan mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun 2026. Optimisme ini didorong oleh fundamental harga komoditas yang tetap berada di level tinggi meskipun sempat mengalami fluktuasi jangka pendek.

Berdasarkan data Trading Economics hingga Jumat (17/7), harga tembaga mencatatkan pertumbuhan sebesar 9,47% secara year to date (ytd) ke level US$ 6,22 per pound. Meskipun terjadi koreksi sebesar 2,42% dalam sebulan terakhir, harga komoditas ini dinilai masih berada dalam tren struktural yang kuat dibandingkan periode tahun lalu.

Pelemahan harga dalam sebulan terakhir dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu aksi jual di pasar logam global. Namun, kekhawatiran mengenai gangguan pasokan akibat badai dahsyat di Chili, salah satu produsen utama, berhasil menahan penurunan harga lebih dalam.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa koreksi harga saat ini merupakan bentuk penyesuaian terhadap harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) kuartalan. Secara struktural, harga tembaga tetap berada di posisi yang menguntungkan bagi para pelaku industri.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menambahkan bahwa prospek kinerja emiten tembaga pada semester I-2026 tetap cerah. Hal ini sejalan dengan tingginya permintaan dari sektor elektrifikasi, pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta pembangunan pusat data.

Kebutuhan akan tembaga diprediksi terus meningkat seiring dengan akselerasi transisi energi dunia. Permintaan global diproyeksikan melonjak dari 9,9 juta ton pada 2025 menjadi 14,3 juta ton pada 2030, sementara pasokan diprediksi akan mengalami defisit hingga tahun 2027.

Di sisi lain, emiten tembaga yang juga memproduksi emas sebagai mineral ikutan mendapatkan keuntungan tambahan dari tren pembelian emas oleh bank sentral. Emas saat ini memposisikan dirinya sebagai aset safe haven yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kendati prospeknya cerah, para analis tetap mewaspadai beberapa sentimen negatif yang membayangi sektor ini. Risiko perlambatan ekonomi di China sebagai konsumen tembaga terbesar dunia serta potensi keterlambatan proyek smelter menjadi faktor yang dapat mempengaruhi volume produksi.

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) disebut sebagai emiten yang paling diunggulkan. Keduanya dinilai memiliki ketahanan fundamental yang kuat dalam menghadapi volatilitas pasar komoditas.

Khusus untuk AMMN, kinerja perusahaan diprediksi berada dalam fase akselerasi berkat keberhasilan proses ramp-up pada Fase 8 Batu Hijau. Sepanjang kuartal I-2026, produksi konsentrat AMMN tercatat melesat 110% secara year on year (yoy) menjadi 167.792 ton.

Transformasi bisnis AMMN menjadi produsen katoda tembaga dan emas murni juga memperkuat integrasi vertikal perusahaan. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan margin laba serta kualitas pendapatan secara signifikan.

Melihat potensi tersebut, analis merekomendasikan beli untuk saham AMMN dengan target harga di level Rp 6.000 per saham. Investor diharapkan tetap mencermati dinamika makroekonomi global yang dapat mempengaruhi harga komoditas logam di masa mendatang.