JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi dalam sebesar 101,28 poin atau 1,70 persen ke level 5.839,78 pada perdagangan Kamis. Sepanjang sesi, indeks sempat terperosok ke level terendah 5.644 sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugian menjelang penutupan pasar.
Pelemahan ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif, baik dari domestik maupun eksternal. Di pasar dalam negeri, rendahnya kepercayaan investor serta maraknya rumor yang beredar memperburuk tekanan jual yang sudah terjadi sejak hari sebelumnya.
Sentimen negatif kian diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi 0,46 persen ke posisi Rp18.049 per dolar AS. Kondisi ini diperburuk dengan terus berlanjutnya arus keluar dana asing (*capital outflow*), baik dari pasar saham maupun surat berharga negara.
Pengamat pasar modal, Elandry Pratama, menyebut penurunan IHSG merupakan dampak dari kombinasi sentimen buruk yang datang bersamaan. Selain pelemahan rupiah, pasar bereaksi negatif terhadap *outlook* Moody’s terkait Danantara.
Dari sisi eksternal, tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas turut menekan pasar. Selain itu, kebijakan tarif baru yang diusung Presiden AS Donald Trump diprediksi akan berdampak negatif bagi sektor ekspor Indonesia.
“Kombinasi berbagai sentimen negatif tersebut diperburuk oleh faktor teknikal berupa *panic selling* dan efek *margin call*, sehingga aksi jual semakin masif,” ungkap Elandry.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai tekanan jual masih cukup kuat. Hal ini terlihat dari pelebaran histogram negatif pada indikator *Moving Average Convergence Divergence* (MACD) dan pola *death cross* pada *Stochastic RSI*. Ke depan, pergerakan indeks diprediksi masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah, berpotensi menguji area *support* di rentang 5.700-5.800.
Kondisi lesu melanda seluruh sektor di bursa. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, kesebelas sektor ditutup di zona merah. Sektor industri mencatatkan pelemahan terdalam sebesar 4,07 persen, disusul sektor properti 3,28 persen, dan barang konsumsi primer 2,36 persen.
Data perdagangan mencatat frekuensi transaksi sebanyak 2,29 juta kali dengan volume 39,68 miliar lembar saham. Nilai transaksi harian mencapai Rp25,53 triliun. Secara keseluruhan, sebanyak 623 saham melemah, sementara hanya 106 saham yang mampu menguat, dan 85 saham lainnya stagnan.







