Tutup
InvestasiPerbankan

Investasi Valas Butuh Proteksi, Momentum, dan Diversifikasi

112
×

Investasi Valas Butuh Proteksi, Momentum, dan Diversifikasi

Sebarkan artikel ini
masih-cuankah-berinvestasi-mata-uang-asing-di-tengah-gejolak-dunia?
Masih Cuankah Berinvestasi Mata Uang Asing di Tengah Gejolak Dunia?

Jakarta – Di tengah gejolak ekonomi global, investasi valuta asing atau mata uang asing kembali dilirik sebagian investor domestik sebagai safe haven.

Di sisi lain, pergerakan nilai tukar mata uang asing semakin fluktuatif, termasuk tekanan terhadap rupiah. Kondisi ini memunculkan dilema bagi investor antara peluang keuntungan dan risiko yang harus dihadapi.

Lantas, masih relevankah berinvestasi mata uang asing dan bisa mendulang cuan di tengah gonjang-ganjing ekonomi dunia saat ini?

Simak pandangan para perencana keuangan terkait investasi valas berikut.

Perencana Keuangan Zielts Consulting Ahmad Gozali mengatakan valas lebih cocok untuk proteksi nilai ketimbang mengejar keuntungan cepat.Bagi investor yang ingin trading aktif menggunakan forward contract, menurut dia, tidak perlu melihat pelemahan rupiah.

“Trading bisa dilakukan karena ada kenaikan dan penurunan, karena bisa ambil untung dari sisi jual maupun beli,” ujar Ahmad.Meski demikian, Ahmad menyarankan investasi aktif hanya bagi investor yang memiliki waktu, kompetensi, dan dana besar. Sementara itu, bagi investor yang berinvestasi secara pasif, valas bisa dibeli secara fisik atau melalui rekening valas di pasar spot.

“Yang seperti ini saya sarankan terutama untuk yang punya kebutuhan masa depan dalam bentuk valas, seperti umroh, haji, traveling atau pendidikan anak,” terangnya.

Ahmad mengatakan pilihan mata uang asing disesuaikan dengan kebutuhan. Secara umum, investor biasanya memilih dolar AS untuk dikoleksi. Namun,saat ini terdapat alternatif yang lebih luas,seperti dolar Singapura (SGD) hingga yuan China.

“Umumnya sih USD (dolar AS) ya, tapi sekarang mungkin pilihan bisa lebih luas seperti SGD (dolar Singapura), bahkan Yuan,” kata Ahmad.

Ia menjelaskan China merupakan negara adidaya berikutnya secara ekonomi. Karena itu,Ahmad memproyeksikan yuan cenderung stabil dan terus menguat ke depannya.

“Negara adidaya berikutnya secara ekonomi adalah China, mungkin bisa jadi mata uang yang stabil dan terus menguat,” imbuhnya.Ahmad juga menilai dolar Singapura saat ini sudah sangat kuat. Meski begitu, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi tetap tidak terhindarkan akibat konflik geopolitik.

“Tapi SGD masih bisa di-hold untuk yang memang kebutuhannya dalam SGD, seperti traveling atau sekolah,” ungkap Ahmad.

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari Assad, mengatakan investor perlu memperhatikan momentum saat berinvestasi. Sebab, setiap investasi memiliki kelebihan dan kekurangan, terutama dalam kondisi tertentu yang memengaruhi produk investasi tersebut.

“Saat ini memang USD mengalami peningkatan cukup tinggi dibandingkan sebelumnya, tapi kalau kita masuk saat ini, bisa dibilang nilainya sudah tinggi. Artinya kalau kita masuk saat ini, maka harganya sudah tinggi. Sehingga sangat disarankan untuk berhati-hati,” kata Tejasari.

Ia juga mengingatkan investor untuk mempertimbangkan sejumlah faktor. Pertama, kurs saat ini terus meningkat imbas banyak investor masuk ke USD karena suku bunga global cukup tinggi.

Kedua, banyak investor memilih mata uang yang lebih kuat. namun, ketika kondisi berubah, ada kemungkinan mereka beralih ke pilihan produk investasi dari negara lain.Kondisi ini pada akhirnya dapat menyebabkan USD mengalami penurunan.

Tejasari menuturkan, untuk meminimalkan risiko kerugian, investor sebaiknya melakukan diversifikasi dan tidak bergantung hanya pada satu jenis valas.

“Tentu saja ada beberapa mata uang lainnya yang bisa jadi pilihan,seperti Euro,Yen,SGD (dolar Singapura),CNY (Yuan),AUD (dolar Australia),CAD (dolar Kanada),” terang Tejasari.

Ia menjelaskan investor dapat melakukan diversifikasi ke mata uang lain selain USD. Namun, kelebihan dan kekurangan masing-masing mata uang tetap perlu diperhatikan, termasuk kondisi ekonomi negara tersebut dan potensi pergerakannya saat krisis.