Jakarta – PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pengelola restoran KFC di Indonesia, berencana lebih agresif dalam ekspansi bisnis dengan menambah jumlah gerai secara signifikan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk mengoptimalkan kinerja dan memperluas jangkauan pasar.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jonathan Guyadi, dalam risetnya menyebutkan bahwa FAST menargetkan pertumbuhan kinerja jangka menengah hingga panjang melalui optimalisasi gerai dan ekspansi jaringan yang terarah.
Strategi ekspansi ini akan fokus pada pembukaan dan relokasi gerai ke wilayah yang masih kurang terjamah, terutama di kota-kota sekunder dan pulau-pulau hub. Saat ini, sekitar 70% gerai QSR (Quick Service Restaurant) masih terkonsentrasi di kota-kota besar.
FAST menargetkan pembukaan 50 hingga 70 gerai bersih per tahun, dengan target mengoperasikan sekitar 1.000 gerai pada tahun 2030.
Jika strategi ini berjalan sukses, diperkirakan akan mendorong pertumbuhan pendapatan tahunan (CAGR) sebesar 11% pada periode 2026-2030. Peningkatan ini akan didukung oleh produktivitas gerai yang lebih baik dan pertumbuhan penjualan yang stabil sekitar 2%.
Dari sisi profitabilitas, margin EBIT diproyeksikan akan pulih ke kisaran 4% pada tahun 2030, kembali ke level sebelum pandemi. Perbaikan ini diharapkan berasal dari penurunan tekanan biaya operasional, peningkatan efisiensi di tingkat gerai, dan relokasi gerai yang lebih strategis.
Dengan perbaikan struktur biaya dan operasional, FAST diproyeksikan kembali mencatatkan laba bersih positif mulai tahun 2027. Laba bersih perusahaan diperkirakan tumbuh dengan CAGR sebesar 41,3% dalam tiga tahun ke depan, mencapai sekitar Rp 302 miliar pada tahun 2030.
Selain fokus pada bisnis restoran, FAST juga mulai merambah bisnis perunggasan terintegrasi melalui anak usahanya. Langkah ini dinilai strategis untuk menciptakan sumber pendapatan baru dan mengamankan pasokan ayam broiler untuk kebutuhan internal perusahaan.
Dengan pasokan bahan baku yang terjamin, FAST diproyeksikan mampu menekan biaya input sekitar 8%–13%, sehingga mendukung ketahanan margin operasional dalam jangka panjang.
Bisnis perunggasan terintegrasi tersebut diperkirakan akan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2027, dan berpotensi menyumbang pendapatan tambahan sekitar Rp 853 miliar.
Dalam jangka menengah, pendapatan dari segmen perunggasan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sekitar 5,2% pada periode 2027–2032.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai bahwa ekspansi ini dapat menjadi upaya perbaikan kinerja jangka panjang dan memperkuat pangsa pasar FAST.
Namun, pembukaan gerai baru juga berpotensi meningkatkan beban gaji pegawai dalam jangka pendek, yang dapat menekan laba bersih.
“Di sisi lain, tantangan dari sisi daya beli yang masih menghantui FAST juga masih berpotensi menekan dari sisi top line,” ujar Azis.
Rekomendasi Saham
Samuel Sekuritas merekomendasikan *speculative buy* untuk saham FAST dengan target harga Rp 1.000 per saham, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 98% dari posisi saat ini.
Selain itu, dengan asumsi peningkatan kapitalisasi pasar menjadi Rp 4,6 triliun atau setara Rp 4.800 per saham, FAST berpotensi masuk ke dalam MSCI Small Cap Index.
Meskipun dinilai prospektif, kinerja perusahaan tetap menghadapi risiko seperti pelemahan daya beli masyarakat, isu geopolitik, dan fluktuasi harga bahan baku.
Sementara itu, Azis saat ini menyarankan *wait and see* untuk saham FAST karena pergerakan harga sahamnya masih dalam tren menurun.







