JAKARTA – Kinerja keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang impresif pada kuartal I-2026 berhasil memicu sentimen positif bagi pergerakan saham perusahaan di pasar modal. Saham BMRI ditutup menguat 80 poin atau 1,73% ke level Rp4.700 per lembar pada perdagangan Selasa (21/4), setelah sempat dibuka melemah di level Rp4.610.
Lonjakan harga saham ini sejalan dengan capaian laba bersih konsolidasi Bank Mandiri yang menembus Rp15,4 triliun sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026. Angka tersebut tumbuh 16,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar 11,1% menjadi Rp21,17 triliun. Selain itu, penyaluran kredit perseroan turut meningkat 17,4% menjadi Rp1.530 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh signifikan sebesar 21,1% mencapai Rp1.675 triliun.
Kualitas aset Bank Mandiri pun tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross di posisi 0,98%, membaik 3 basis poin secara tahunan. Manajemen perseroan memastikan akan terus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam ekspansi kredit ke sektor-sektor prospektif sepanjang tahun 2026.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyatakan bahwa perseroan akan berfokus pada peningkatan dana murah (CASA) untuk menjaga efisiensi likuiditas dan struktur pendanaan. Margin bunga bersih (NIM) juga diproyeksikan tetap stabil melalui optimalisasi ekosistem digital dan portofolio.
Analis pasar menilai pertumbuhan kredit Bank Mandiri di segmen korporasi dan ritel menjadi mesin utama kinerja perseroan. Pemanfaatan platform digital seperti Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri terbukti efektif menekan biaya dana (cost of fund) dan meningkatkan pendapatan non-bunga.
Proyeksi pertumbuhan kredit Bank Mandiri untuk keseluruhan tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran 10% hingga 12%. Dukungan dari sektor manufaktur, konsumsi domestik, serta pembiayaan proyek strategis nasional dinilai menjadi faktor penopang utama.
Meski memiliki prospek positif, para analis tetap mengingatkan adanya tantangan ekonomi yang perlu diwaspadai. Faktor ketidakpastian global, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga persaingan ketat penghimpunan DPK di sektor perbankan dapat menekan kinerja di sisa tahun ini.
Di tengah kondisi tersebut, valuasi saham BMRI dinilai masih cukup menarik bagi investor. Dengan price to book value (PBV) di level 1,4 kali dan potensi imbal hasil dividen yang tinggi, saham ini dianggap layak menjadi pilihan untuk investasi jangka panjang, terutama dengan proyeksi dividend yield yang diperkirakan mencapai kisaran 8% hingga 10%.







