Regulasi

Wall Street Akhiri Reli Sembilan Pekan Akibat Pelemahan Saham Teknologi

117
×

Wall Street Akhiri Reli Sembilan Pekan Akibat Pelemahan Saham Teknologi

Sebarkan artikel ini

NEW YORK – Tren positif Wall Street yang bertahan selama sembilan pekan akhirnya terhenti dengan koreksi tajam pada perdagangan Jumat (5/6). Saham sektor teknologi dan semikonduktor memimpin penurunan harian terdalam sejak April 2025, dipicu oleh laporan data tenaga kerja AS yang jauh melampaui ekspektasi.

Laporan ketenagakerjaan yang menunjukkan penambahan 172.000 pekerjaan pada bulan Mei membuat pelaku pasar khawatir. Data ekonomi yang solid ini justru memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif, termasuk menunda pemotongan suku bunga di sisa tahun ini.

Indeks Nasdaq Composite mencatatkan penurunan satu hari terburuknya dalam beberapa tahun terakhir, sementara Indeks Semikonduktor Philadelphia SE mengalami anjlok harian terbesar sejak Maret 2020. Aksi jual ini menghapus nilai pasar saham lebih dari US$1 triliun.

Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group, menilai pasar bereaksi keras karena saham teknologi telah mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, laporan tenaga kerja yang kuat menempatkan The Fed dalam posisi sulit, sehingga investor merespons dengan aksi ambil untung pada sektor yang sebelumnya mencatatkan performa terbaik.

Meski terjadi koreksi, beberapa analis melihat aksi jual ini lebih didorong oleh kondisi pasar yang sudah jenuh beli (*overbought*) dibandingkan perubahan fundamental perusahaan. Ohsung Kwon dari Wells Fargo optimistis bahwa tren *bullish* di sektor semikonduktor belum sepenuhnya berakhir.

Selain sentimen suku bunga, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk suasana pasar. Harapan akan segera berakhirnya konflik di kawasan tersebut memudar, memicu kekhawatiran bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat memicu tekanan inflasi energi yang lebih luas.

Secara teknis, Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 1,35% ke level 50.866,78. Indeks S&P 500 merosot 2,64% menjadi 7.383,74, sementara Nasdaq Composite jatuh 4,18% ke posisi 25.709,43.

Sektor teknologi menjadi penekan utama dengan penurunan 5,8%. Raksasa chip seperti Nvidia anjlok 6,2%, sementara Intel, Micron, AMD, dan Broadcom merosot tajam di rentang 7,9% hingga 13,3%. Selain sektor teknologi, saham Lululemon Athletica juga terpuruk 8,6% setelah perusahaan memangkas proyeksi laba tahunan mereka.

Di sisi lain, produsen lensa kontak Cooper Companies menjadi salah satu saham yang mampu bertahan dengan kenaikan 8,6% berkat hasil kinerja kuartalan yang melampaui estimasi analis.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 22,89 miliar saham, di atas rata-rata 20 hari perdagangan terakhir. Kondisi pasar saat ini mencerminkan tingginya volatilitas seiring dengan ketidakpastian kebijakan ekonomi global dan tensi geopolitik yang terus berlanjut.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com Indeks utama Wall Street melemah pada perdagangan hari Jumat (5/6/2026). Penurunan ini dipicu oleh saham-saham produsen chip yang mulai kehilangan momentum setelah sempat mengalami reli tajam. Di sisi lain, laporan bulanan lapangan kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat (hawkish). Baca Juga: IHSG Ambruk 4,19% ke 5.594, Cek SumbarSumbarbisnis.com Sell Terbesar Asing Akhir…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan kuat pada perdagangan Rabu (3/6/2026), seiring pelemahan nilai tukar rupiah dan sentimen negatif dari dalam maupun luar negeri. Tekanan jual yang masif juga diwarnai aksi keluar dana asing dalam jumlah besar. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup merosot 4,11% atau turun 254 poin ke level 5.941,06. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik masih berlanjut. Nilai tukar rupiah dan pasar saham kompak melemah sepanjang pekan terakhir di tengah meningkatnya ketidakpastian dan sentimen negatif investor terhadap aset Indonesia. Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,86% dalam sepekan hingga menyentuh level Rp 18.036 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, tekanan juga terjadi di pasar saham….