Regulasi

OJK Pastikan Kondisi Perbankan Tetap Aman Meski Rupiah Melemah

70
×

OJK Pastikan Kondisi Perbankan Tetap Aman Meski Rupiah Melemah

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan tidak ada potensi penarikan dana massal (*bank rush*) di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah saat ini. Stabilitas sistem keuangan nasional dinilai tetap terjaga berkat kondisi ekonomi, politik, dan keamanan yang kondusif.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa fenomena *bank rush* biasanya dipicu oleh hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. Namun, saat ini fundamental perbankan dalam negeri masih sangat solid.

“Kami memandang saat ini tidak terdapat potensi *bank rush*. Manajemen bank harus terus menjaga kepercayaan masyarakat dengan mempertahankan kinerja yang sehat, menerapkan prinsip kehati-hatian, serta memperkuat manajemen risiko di setiap lini bisnis,” ujar Dian dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan, Jumat (5/6/2026).

Ketahanan industri perbankan nasional tercermin dari rasio kecukupan modal (*Capital Adequacy Ratio*/CAR) yang mencapai 23,97 persen pada April 2026. Selain itu, rasio kredit bermasalah (*Non-Performing Loan*/NPL) *gross* tetap terjaga di level 2,17 persen.

OJK mengakui bahwa pelemahan rupiah membawa tantangan tersendiri, seperti kenaikan harga barang impor, penurunan daya beli masyarakat, serta beban subsidi pemerintah. Meski begitu, pelemahan mata uang ini juga memberikan peluang positif bagi sektor eksportir dan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Di sisi lain, Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan pihaknya terus memantau dampak pergerakan nilai tukar terhadap lembaga jasa keuangan. Fokus pengawasan saat ini diarahkan pada potensi peningkatan beban kewajiban valuta asing pada sektor korporasi.

Sebagai langkah mitigasi, OJK memperketat pengawasan terhadap posisi devisa neto harian, kecukupan likuditas valas, serta kepatuhan bank terhadap regulasi terkait.

“Kami juga melakukan *supervisory dialogue* dengan bank yang menunjukkan akumulasi posisi tertentu. Hal ini untuk memastikan penerapan manajemen risiko pasar dan likuditas berjalan dengan memadai,” tutup Friderica.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com NEW YORK. Rentetan kemenangan Wall Street selama sembilan minggu berakhir dengan pukulan telak pada hari Jumat (5/6), karena saham teknologi yang sedang naik daun mengalami penurunan harian terbesar sejak April 2025 setelah laporan pekerjaan Mei yang bagus memicu kekhawatiran akan perubahan kebijakan yang agresif dari Federal Reserve AS. Penjualan terkonsentrasi pada saham chip dan saham teknologi favorit lainnya yang telah…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com Indeks utama Wall Street melemah pada perdagangan hari Jumat (5/6/2026). Penurunan ini dipicu oleh saham-saham produsen chip yang mulai kehilangan momentum setelah sempat mengalami reli tajam. Di sisi lain, laporan bulanan lapangan kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat (hawkish). Baca Juga: IHSG Ambruk 4,19% ke 5.594, Cek SumbarSumbarbisnis.com Sell Terbesar Asing Akhir…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan kuat pada perdagangan Rabu (3/6/2026), seiring pelemahan nilai tukar rupiah dan sentimen negatif dari dalam maupun luar negeri. Tekanan jual yang masif juga diwarnai aksi keluar dana asing dalam jumlah besar. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup merosot 4,11% atau turun 254 poin ke level 5.941,06. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik masih berlanjut. Nilai tukar rupiah dan pasar saham kompak melemah sepanjang pekan terakhir di tengah meningkatnya ketidakpastian dan sentimen negatif investor terhadap aset Indonesia. Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,86% dalam sepekan hingga menyentuh level Rp 18.036 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, tekanan juga terjadi di pasar saham….