Bursa Saham

Kinerja Unilever (UNVR) Semester I-2026 Naik, Simak Rekomendasi Sahamnya

1
×

Kinerja Unilever (UNVR) Semester I-2026 Naik, Simak Rekomendasi Sahamnya

Sebarkan artikel ini
Gedung kantor PT Unilever Indonesia Tbk di Jakarta
PT Unilever Indonesia Tbk mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 37,7% pada semester I-2026.

JAKARTA – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan kinerja keuangan yang impresif sepanjang semester I-2026 dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 37,7% secara tahunan (year on year). Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp 2,97 triliun, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,16 triliun.

Pencapaian laba bersih tersebut didorong oleh kenaikan penjualan bersih yang mencapai Rp 16,9 triliun, atau tumbuh 7,05% dibandingkan realisasi semester I-2025 sebesar Rp 15,79 triliun. Secara rinci, segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh menyumbang pendapatan sebesar Rp 12,36 triliun, sementara segmen makanan dan minuman mencatatkan Rp 4,53 triliun.

Pertumbuhan kinerja ini sekaligus menandai tren positif perseroan selama empat kuartal berturut-turut. Faktor utama pendorong pertumbuhan adalah kenaikan volume dasar sebesar 7,3% yang mencerminkan pemulihan permintaan konsumen di pasar.

Strategi tiga pilar kategori produk melalui inovasi berbasis sains dinilai berhasil memperkuat posisi merek Unilever di pasar domestik. Selain itu, langkah efisiensi biaya perusahaan mampu menjaga margin laba sebelum pajak tetap berada di level solid, yakni 15,7%.

Kinerja laba bersih juga terbantu oleh adanya laba penjualan dari operasi yang dihentikan sebesar Rp 870,27 miliar yang tidak tercatat pada periode sebelumnya. Hal ini mendongkrak total laba dari operasi yang dihentikan setelah pajak menjadi Rp 887,86 miliar.

Meskipun mencatatkan kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan perseroan juga meningkat menjadi Rp 9,02 triliun dari sebelumnya Rp 8,17 triliun. Beban umum dan administrasi pun tercatat naik menjadi Rp 1,67 triliun dari posisi tahun lalu sebesar Rp 1,40 triliun.

Para analis memandang prospek Unilever untuk semester II-2026 tetap positif. Momentum pertumbuhan volume dan perluasan distribusi menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan bisnis perusahaan di sisa tahun ini.

Pemulihan daya beli masyarakat secara bertahap serta strategi ekspansi kemasan yang berorientasi pada nilai (value-oriented) diharapkan mampu menjangkau konsumen di segmen sensitif harga. Selain itu, potensi divestasi aset seperti Buavita diproyeksikan dapat memberikan tambahan laba non-recurring bagi perusahaan.

Namun, investor perlu mencermati sejumlah tantangan yang membayangi, termasuk tekanan biaya akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi harga bahan baku serta biaya logistik perusahaan.

Persaingan produk lokal yang semakin agresif serta pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi variabel penentu bagi kinerja emiten ke depan. Analis menyarankan pelaku pasar untuk terus memantau perkembangan margin kotor serta efektivitas penyesuaian harga terhadap respons konsumen.

Terkait prospek saham, analis memberikan rekomendasi beli dengan target harga yang bervariasi. Target jangka pendek dipatok di kisaran Rp 1.845 hingga Rp 1.900 per saham, sementara target harga yang lebih optimis berada di level Rp 2.500 per saham.