InvestasiPerbankan

OJK Jaga Stabilitas Perbankan di Tengah Pelemahan Rupiah

123
×

OJK Jaga Stabilitas Perbankan di Tengah Pelemahan Rupiah

Sebarkan artikel ini
ojk-ungkap-dampak-rupiah-jebol-rp18-ribu-ke-industri-perbankan
OJK Ungkap Dampak Rupiah Jebol Rp18 Ribu ke Industri Perbankan

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan sektor perbankan nasional tetap stabil meski nilai tukar rupiah tertekan hingga menyentuh level Rp18.036 per dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6). Kondisi permodalan perbankan dinilai sangat kokoh dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 23,97 persen per April 2026.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa rasio permodalan tersebut menyediakan ruang penyangga yang memadai untuk menyerap berbagai risiko yang muncul. Ia menegaskan bahwa guncangan nilai tukar sejauh ini masih relatif terkendali bagi industri jasa keuangan.

Menurut Friderica, eksposur langsung perbankan terhadap risiko kurs juga terjaga. Hal ini tercermin dari posisi devisa neto yang masih berada jauh di bawah ambang batas maksimal 20 persen.

OJK tetap dalam posisi waspada terhadap potensi tekanan lanjutan yang dapat mengganggu kinerja industri. Risiko yang disoroti mencakup meningkatnya beban kewajiban valuta asing pada korporasi serta tekanan bagi pelaku usaha yang bergantung pada impor.

Kombinasi pelemahan rupiah dan potensi kenaikan harga energi global dikhawatirkan dapat memengaruhi kualitas aset perbankan. Risiko ini bisa berdampak pada penurunan kemampuan bayar debitur di masa mendatang.

Sebagai langkah mitigasi, OJK bakal memperketat pengawasan terhadap aktivitas valas di perbankan. “Kami akan terus memantau posisi devisa neto harian, memastikan kecukupan likuiditas valas, hingga melakukan supervisory dialogue dengan bank yang memiliki akumulasi posisi tertentu,” ujar Friderica dalam konferensi pers RDKB.

Selain pengawasan internal, OJK terus memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Upaya ini dilakukan di tengah kecemasan publik, terutama setelah muncul proyeksi dari ekonom Ferry Latuhihin yang menyebut rupiah berpotensi menembus Rp25 ribu per dolar AS pada akhir 2026 jika tidak ada mitigasi yang memadai.