InspirasiPojok

Potensi Penerbangan Langsung Padang-Bali, Membuka Akses Wisatawan Dunia ke Sumatera Barat

82
×

Potensi Penerbangan Langsung Padang-Bali, Membuka Akses Wisatawan Dunia ke Sumatera Barat

Sebarkan artikel ini

Bali merupakan pintu masuk utama wisatawan mancanegara ke Indonesia, sementara Sumatera Barat memiliki kekuatan pada wisata alam, budaya, kuliner, hingga ombak kelas dunia di Kepulauan Mentawai.

sempat-ditutup-karena-erupsi-gunungapi-marapi,-penerbangan-bim-beroperasi-kembali-hari-ini
Sempat Ditutup Karena Erupsi Gunungapi Marapi, Penerbangan BIM Beroperasi Kembali Hari Ini

Sumbarbisnis.com – Gagasan menghadirkan penerbangan langsung dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang Pariaman, menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, kembali mencuat setelah sempat mengemuka beberapa tahun lalu.

Di atas kertas, rute ini tampak menjanjikan. Bali merupakan pintu masuk utama wisatawan mancanegara ke Indonesia, sementara Sumatera Barat memiliki kekuatan pada wisata alam, budaya, kuliner, hingga ombak kelas dunia di Kepulauan Mentawai.

Namun, di balik optimisme itu tersimpan satu pertanyaan yang belum terjawab hingga kini. Mengapa rute yang diyakini mampu membuka peluang ekonomi baru tersebut belum juga mengudara?

Wacana pembukaan penerbangan langsung Padang–Bali sejatinya bukan cerita baru. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat pernah menggagasnya bersama Pemerintah Provinsi Bali dan maskapai AirAsia pada 2022.

Tiga tahun kemudian, usulan serupa kembali muncul melalui Anggota DPD RI asal Sumbar, Irman Gusman, yang mendorong TransNusa Air membuka rute Bali–Padang.

Berulangnya usulan tersebut menunjukkan satu hal: kebutuhan konektivitas antara Sumbar dan Bali masih dianggap relevan.

Persoalannya bukan lagi sekadar membuka jalur penerbangan, melainkan memastikan apakah rute tersebut memiliki pasar yang cukup kuat untuk bertahan dalam jangka panjang.

Harapan yang Muncul pada 2022

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menerima audiensi Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy beserta rombongan, di Ruang Tamu Wakil Gubernur Bali, Niti Mandala, Denpasar, Jumat (16/9/2022). Foto : Nusabali.com
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menerima audiensi Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy beserta rombongan, di Ruang Tamu Wakil Gubernur Bali, Niti Mandala, Denpasar, Jumat (16/9/2022). Foto : Nusabali.com

Harapan itu menguat pada September 2022. Saat itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Audy Joinaldy, mengungkapkan Pemerintah Provinsi Sumbar dan Pemerintah Provinsi Bali telah mencapai kesepahaman untuk menghadirkan penerbangan langsung melalui kerja sama dengan AirAsia.

Menurut Audy, pembukaan rute tersebut membutuhkan dukungan dari kedua pemerintah daerah agar dapat direalisasikan.

“Kerja sama dengan pihak Maskapai Air Asia ini tentunya memerlukan dukungan dari kedua pemerintah daerah. Dengan terbukanya penerbangan langsung antara Sumbar dan Bali, diharapkan peningkatan kunjungan wisata serta peningkatan perekonomian masyarakat di kedua daerah,” ujar Audy melalui keterangan resminya, Sabtu (17/9/2022) saat pertemuan tersebut.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Setelah pandemi Covid-19 mulai mereda, pemerintah daerah berupaya menghidupkan kembali sektor pariwisata yang sempat terpuruk.

Audy menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Sumbar untuk terus memperkuat sektor tersebut. Bahkan, ia mengaku telah bertemu Gubernur Bali Wayan Koster guna membahas peluang kerja sama pengembangan pariwisata.

Saat itu, Audy menilai tren wisata mulai bergeser ke arah desa wisata sehingga diperlukan strategi baru dalam menarik kunjungan wisatawan.

“2024 kan akan menjadi tahun politik, maka untuk memboomingkan sektor wisata akan menjadi kacau. Jadi baiknya kegiatan ini akan dilakukan pada tahun depan (2023),” katanya.

Namun, memasuki 2023 hingga kini, penerbangan langsung yang diharapkan itu belum juga terealisasi.

Tiga Tahun Berselang, Wacana Kembali Menguat

Sharing session bersama pakar pemasaran Hermawan Kertajaya, yang langsung dihadiri Direktur TransNusa Air Leo Budiman di kantor pusat MCorp/MarkPlus, Menara 88 lantai 8, Jakarta, pada Senin (10/11/2025). Foto : Istimewa
Sharing session bersama pakar pemasaran Hermawan Kertajaya, yang langsung dihadiri Direktur TransNusa Air Leo Budiman di kantor pusat MCorp/MarkPlus, Menara 88 lantai 8, Jakarta, pada Senin (10/11/2025). Foto : Istimewa

Setelah sempat tenggelam, gagasan tersebut kembali mengemuka pada November 2025.

Kali ini, dorongan datang dari Anggota Komite I DPD RI, Irman Gusman. Dalam kegiatan sharing session bersama pakar pemasaran Hermawan Kartajaya di kantor pusat MCorp/MarkPlus, Jakarta, Senin, 10 November 2025, Irman secara langsung mengusulkan kepada Direktur TransNusa Air, Leo Budiman, agar membuka rute Bali–Bandara Internasional Minangkabau.

Usulan itu merupakan tindak lanjut dari penyelenggaraan Indonesia Tourism Marketing Week (ITMW) 2025 di Bali serta kunjungan kerja ke Sumatera Barat, khususnya Kepulauan Mentawai.

Menurut Irman, penerbangan langsung bukan sekadar mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi menjadi strategi memperluas akses wisatawan internasional menuju Sumbar.

“Rute Bali–Padang ini sangat penting untuk dibuka, karena akan menjadi langkah strategis dalam memperkuat konektivitas dan mendorong pertumbuhan sektor pariwisata Sumatera Barat, khususnya Mentawai,” ungkap Irman dalam keterangan tertulisnya.

Irman melihat Bali bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai gerbang utama wisatawan dunia menuju Indonesia.

“Dengan terkoneksinya Bali dan Padang, wisatawan mancanegara bisa langsung menjelajahi kekayaan alam dan budaya Sumatera Barat tanpa harus transit berulang kali,” ujarnya.

Ia menilai Sumbar memiliki kekayaan destinasi yang lengkap, mulai dari Bukittinggi, Danau Maninjau, kuliner Minangkabau hingga Kepulauan Mentawai yang dikenal sebagai salah satu lokasi selancar terbaik di dunia.

“Saya berharap pembukaan rute baru ini tidak hanya memperlancar mobilitas wisatawan asing, tetapi juga meningkatkan pendapatan daerah, memperluas peluang usaha, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan tentunya mempercepat pembangunan regional,” tutur mantan Ketua DPD RI itu.

Usulan tersebut mendapat respons positif dari TransNusa dan para pelaku industri pariwisata yang hadir dalam forum tersebut.

Bali, Gerbang Wisata Dunia yang Belum Terhubung Langsung

group of people parade on street
Ilustrasi Bali. Foto : Pexels/Ruben Hutabarat

Alasan utama mengapa rute ini terus diperjuangkan terletak pada posisi strategis Bali dalam peta pariwisata nasional.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menjadi pintu masuk terbesar wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Selama 2025, BPS Provinsi Bali mencatat sebanyak 6.948.754 wisatawan mancanegara datang langsung ke Bali, meningkat 9,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Wisatawan terbanyak berasal dari Australia, disusul India, Tiongkok, Singapura, dan sejumlah negara lainnya.

Jumlah tersebut memperlihatkan bahwa Bali bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga hub internasional yang menghubungkan Indonesia dengan berbagai kota di Asia, Australia, hingga Eropa.

Artinya, apabila tersedia penerbangan langsung ke Padang, wisatawan asing yang telah berada di Bali tidak lagi harus transit melalui Jakarta atau kota lain untuk mencapai Sumatera Barat.

Bagi wisatawan, perjalanan menjadi lebih singkat. Bagi maskapai, terbuka peluang mengembangkan jaringan baru. Sedangkan bagi daerah, konektivitas yang lebih baik berpotensi memperluas pasar pariwisata.

Sumbar Memiliki Modal, Tetapi Perlu Pasar yang Konsisten

Jam Gadang Bukittinggi. Foto: Internet
Jam Gadang Bukittinggi. Foto: Internet

Dari sisi destinasi, Sumatera Barat sesungguhnya memiliki daya tarik yang sulit dipandang sebelah mata.

Mentawai telah lama menjadi magnet bagi peselancar dunia. Bukittinggi dikenal sebagai ikon wisata sejarah dan budaya Minangkabau. Danau Maninjau, Lembah Harau, Istano Basa Pagaruyung, hingga kekayaan kuliner rendang, sate Padang, dan berbagai masakan Minang telah dikenal luas oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan adanya tren positif kunjungan wisatawan asing ke Sumbar.

Pada Mei 2025, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Minangkabau mencapai 8.312 kunjungan, meningkat 32,57 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski angkanya masih jauh di bawah Bali, tren tersebut menunjukkan bahwa pasar wisata internasional menuju Sumbar terus bergerak.

Namun, dalam industri penerbangan, pertumbuhan wisatawan saja belum cukup.

Mengapa Belum Juga Terbang?

an airport terminal with a large window
Lounge Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Foto : Pexels/Damar Paramartha

Pertanyaan terbesar justru berada pada sisi bisnis maskapai.

Membuka sebuah rute baru membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Maskapai harus menghitung biaya operasional pesawat, avtur, rotasi armada, jadwal kru, hingga potensi pendapatan.

Yang paling menentukan adalah tingkat keterisian kursi atau load factor.

Sebuah rute baru harus mampu mempertahankan jumlah penumpang dalam jangka panjang, bukan hanya ramai pada musim liburan atau akhir pekan.

Di sinilah tantangan Padang–Bali.

Wisatawan asal Sumbar memang memiliki minat berlibur ke Bali. Sebaliknya, wisatawan asing yang datang ke Bali juga berpotensi melanjutkan perjalanan ke Mentawai atau destinasi lain di Sumbar.

Namun pertanyaannya, apakah arus penumpang dua arah tersebut cukup untuk mengisi kursi pesawat secara konsisten sepanjang tahun?

Maskapai tentu membutuhkan jawaban berbasis data sebelum mengambil keputusan.

Tidak Cukup Mengandalkan Maskapai

Maskapai Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta. Foto : Istimewa
Maskapai Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta. Foto : Istimewa

Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah rute penerbangan baru tidak hanya ditentukan maskapai.

Pemerintah daerah memiliki peran besar dalam menciptakan permintaan.

Promosi bersama, penyelenggaraan event internasional, paket wisata terintegrasi, kerja sama dengan agen perjalanan, hingga dukungan pemasaran menjadi faktor yang ikut menentukan tingkat okupansi penerbangan.

Dengan kata lain, jika penerbangan langsung Padang–Bali benar-benar dibuka, pekerjaan pemerintah daerah justru baru dimulai.

Maskapai dapat menyediakan pesawat, tetapi pemerintah dan pelaku industri wisata harus memastikan kursi-kursi itu terisi.

Dibanding beberapa tahun lalu, kondisi pariwisata Indonesia kini menunjukkan pemulihan yang semakin kuat.

Jumlah wisatawan asing ke Bali terus meningkat. Di sisi lain, kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumbar juga memperlihatkan tren positif.

Kondisi tersebut membuka peluang baru bagi Sumbar untuk kembali mendorong pembukaan penerbangan langsung.

Apalagi, Bali telah menjadi simpul perjalanan internasional yang memungkinkan wisatawan melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Indonesia tanpa harus kembali melalui Jakarta.

Lebih dari Sekadar Membuka Jalur Udara

people on beach shore during daytimePada akhirnya, pembukaan rute Padang–Bali bukan semata soal menghadirkan satu penerbangan baru.

Di balik rute itu terdapat harapan agar Sumatera Barat lebih terhubung dengan pasar wisata global, memperluas peluang investasi, menggerakkan UMKM, meningkatkan okupansi hotel, hingga membuka lapangan kerja baru di sektor pariwisata.

Namun pengalaman sejak 2022 juga memberi pelajaran bahwa optimisme saja tidak cukup. Rute penerbangan hanya akan bertahan apabila ditopang permintaan pasar yang kuat, promosi yang berkelanjutan, serta kolaborasi erat antara pemerintah daerah, maskapai, pelaku usaha, dan industri pariwisata.

Karena itu, pertanyaan yang paling relevan hari ini bukan lagi apakah Padang membutuhkan penerbangan langsung ke Bali. Jawabannya hampir pasti iya.

Pertanyaan sesungguhnya adalah, apakah seluruh ekosistem pendukungnya sudah benar-benar siap sehingga rute tersebut tidak hanya berhasil dibuka, tetapi juga mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang?