Investasi

10 Produk Unitlink Saham dengan Return Tertinggi per Juni 2026

43
×

10 Produk Unitlink Saham dengan Return Tertinggi per Juni 2026

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Kinerja produk unitlink berbasis saham mencatatkan kontraksi terdalam di sepanjang semester pertama 2026. Data Infovesta menunjukkan rata-rata imbal hasil atau yield unitlink saham tergerus hingga 13,39% secara year to date (ytd) per Juni 2026.

Penurunan kinerja ini dipicu oleh tekanan berat pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sepanjang periode berjalan hingga akhir Juni 2026, IHSG terpantau melemah signifikan sebesar 34,74%.

Meski tren pasar secara umum negatif, sejumlah produk unitlink saham mampu mencetak kinerja di atas rata-rata industri. Terdapat 10 produk yang berhasil membukukan imbal hasil positif di tengah kondisi pasar yang menantang.

Manulife Indonesia mendominasi daftar produk dengan performa terbaik. Produk Manulife Dana Ekuitas Asia Pasific – IDR menempati peringkat pertama dengan imbal hasil mencapai 72,88%.

Posisi kedua ditempati oleh Manulife Dana Ekuitas Asia Pasific – USD dengan return 61,37%. Selanjutnya, Manulife Dana Ekuitas Asia Pasifik Syariah – IDR berada di urutan ketiga dengan imbal hasil 46,69%.

Produk Manulife Dana Ekuitas Asia Pasifik Syariah – USD menyusul di posisi keempat dengan perolehan 36,93%. Sementara posisi kelima diisi oleh USD Prime Emerging Market Equity Fund milik AIA Financial yang mencetak return 34,48%.

Urutan keenam diduduki Smartwealth Dollar Equity World Opportunities Funds US$ dari Allianz Life Indonesia dengan imbal hasil 32,92%. Disusul Mandiri Golden Offshore USD milik AXA Mandiri di posisi ketujuh dengan return 30,94%.

Pada posisi kedelapan, PRUlink US Dollar Global Tech Equity Fund milik Prudential Indonesia mencatatkan imbal hasil 27,70%. FWD USD Equity Plus Fund menempati urutan kesembilan dengan return 26,43%.

Posisi kesepuluh diisi oleh Smartwealth Dollar Equity Global Artificial Intelligence Fund dari Allianz Life Indonesia dengan imbal hasil 26,28%. Produk-produk ini menjadi pengecualian di tengah tekanan pasar modal nasional.

Analisis pasar menunjukkan bahwa kontraksi rata-rata unitlink saham justru semakin dalam dibandingkan posisi Mei 2026 yang berada di angka 8,76%. Kondisi ini mencerminkan volatilitas tinggi yang melanda instrumen berbasis ekuitas.

Selain sektor saham, unitlink berbasis campuran juga mengalami tekanan dengan rata-rata kontraksi sebesar 8,93%. Unitlink pendapatan tetap tidak luput dari tren negatif dengan koreksi rata-rata 1,64%.

Hanya unitlink berbasis pasar uang yang mampu bertahan di zona hijau hingga Juni 2026. Produk jenis ini mencatatkan kinerja positif dengan rata-rata imbal hasil sebesar 1,58%.

Prospek kinerja unitlink saham ke depan diprediksi masih akan menghadapi tantangan berat. Hal ini disebabkan oleh minimnya katalis positif yang mampu mendorong penguatan pasar modal Indonesia secara signifikan dalam waktu dekat.