Valuta

Rupiah Diprediksi Lanjut Menguat, Simak Proyeksi Kurs Pekan Depan

52
×

Rupiah Diprediksi Lanjut Menguat, Simak Proyeksi Kurs Pekan Depan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi mata uang rupiah Indonesia dengan latar belakang simbol dolar Amerika Serikat
Nilai tukar rupiah diproyeksikan berpotensi melanjutkan penguatan terhadap dolar AS pada perdagangan pekan depan.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan depan. Optimisme ini muncul setelah mata uang Garuda mencatatkan kinerja positif pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Pada Jumat (7/8/2026), kurs rupiah di pasar spot tercatat menguat 0,15% ke level Rp 17.897 per dolar AS. Secara akumulatif selama sepekan, rupiah berhasil mencatatkan penguatan sebesar 0,69% dari posisi Rp 18.022 per dolar AS pada Jumat (31/7/2026).

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa penguatan rupiah sangat bergantung pada kondisi geopolitik global. Ia menekankan bahwa absennya eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi syarat utama bagi stabilitas mata uang nasional.

Selain faktor geopolitik, pasar saat ini tengah menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat. Jika data tersebut menunjukkan perlambatan sesuai ekspektasi, dolar AS diprediksi akan melemah dan memberi keuntungan bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah pada pekan depan akan berada di kisaran Rp 17.750 hingga Rp 18.150 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan optimisme pasar terhadap ketahanan ekonomi domestik.

Di sisi lain, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah akan cenderung fluktuatif. Ia memperkirakan nilai tukar akan bergerak di rentang Rp 17.780 hingga Rp 18.020 per dolar AS.

Ibrahim menilai sentimen eksternal, khususnya kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), masih menjadi perhatian utama para pelaku pasar. Meskipun demikian, posisi cadangan devisa Indonesia yang tetap kuat diyakini mampu menjaga stabilitas rupiah dari tekanan eksternal.

Penguatan rupiah sepanjang pekan lalu didorong oleh penurunan harga minyak dunia. Harapan akan adanya perdamaian serta potensi dibukanya kembali Selat Hormuz memberikan sentimen positif bagi pasar energi global.

Penurunan harga minyak dunia secara langsung mengurangi tekanan pada neraca perdagangan Indonesia. Hal ini memberikan ruang napas bagi rupiah untuk kembali menjauh dari level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.

Selain faktor eksternal, fundamental ekonomi domestik yang dinilai solid menjadi katalis utama penguatan rupiah. Data-data makroekonomi yang dirilis belakangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjaga.

Strategi Bank Indonesia (BI) yang lebih memilih memberikan insentif bagi investor dibandingkan melakukan pengetatan moneter agresif juga dinilai efektif. Pendekatan ini membantu menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah ketidakpastian pasar global.

Secara keseluruhan, pasar kini memantau dengan cermat perkembangan situasi di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga komoditas. Stabilitas pasokan energi global akan menjadi penentu apakah rupiah dapat mempertahankan momentum penguatannya dalam jangka pendek.