Energi

Ketegangan AS-Iran Memicu Kenaikan Harga Minyak Mentah Pekan Depan

50
×

Ketegangan AS-Iran Memicu Kenaikan Harga Minyak Mentah Pekan Depan

Sebarkan artikel ini
Kilang minyak dengan latar belakang tangki penyimpanan besar di tengah ketegangan geopolitik global.
Harga minyak mentah WTI diprediksi melonjak akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

JAKARTA – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan akan kembali mengalami lonjakan tajam pada pekan mendatang seiring dengan meningkatnya eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (31/7), harga minyak mentah WTI tercatat berada di level US$ 84,67 per barel, yang mencerminkan kenaikan sebesar 23,46% dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Ketegangan di Timur Tengah menjadi pemicu utama fluktuasi harga energi global saat ini. Analis pasar menyebutkan bahwa pemerintah AS dan Israel tengah menyiapkan kampanye pengeboman besar-besaran yang menyasar infrastruktur energi milik Iran.

Situasi ini diperparah dengan seruan Arab Saudi kepada negara-negara Arab lainnya untuk memperkuat persatuan dalam menghadapi blokade yang dilakukan kelompok Houthi Yaman dan Iran di kawasan Laut Merah. Blokade tersebut dinilai krusial karena Laut Merah merupakan jalur distribusi utama bagi ekspor minyak mentah Arab Saudi ke pasar dunia.

Kondisi geopolitik yang memanas turut berdampak pada aktivitas pengiriman di Selat Hormuz. Pembatasan transportasi di jalur vital tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar akan terjadinya gangguan pasokan global yang lebih luas jika konflik militer benar-benar pecah.

Secara teknikal, pergerakan harga minyak mentah WTI untuk sepekan ke depan diproyeksikan akan berada pada rentang US$ 80,50 hingga US$ 96 per barel. Tingginya volatilitas ini menempatkan komoditas energi sebagai salah satu sektor yang paling rentan terhadap perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak mentah tahun ini diproyeksikan mencapai 24%, yang menjadi level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Dampak dari lonjakan harga energi ini diperkirakan akan memicu efek domino pada inflasi global serta biaya operasional berbagai industri yang bergantung pada bahan bakar fosil.

Selain memengaruhi pasar komoditas, ketidakpastian geopolitik ini juga memberikan tekanan signifikan terhadap nilai tukar mata uang, termasuk Rupiah. Pergerakan harga minyak yang tinggi sering kali berkorelasi dengan respons kebijakan moneter global serta pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury).

Di tengah gejolak pasar energi, perhatian dunia kini tertuju pada respons diplomatik dari berbagai pihak untuk meredam ketegangan di Selat Hormuz. Stabilitas jalur perdagangan minyak dunia menjadi faktor penentu utama bagi arah harga komoditas dalam jangka menengah.

Pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap setiap perkembangan terbaru di Timur Tengah yang dapat mengubah peta pasokan minyak mentah secara mendadak. Ketegangan yang berkelanjutan berpotensi menahan harga minyak di level tinggi dalam waktu yang lebih lama dari perkiraan sebelumnya.