Valuta

Rupiah Menguat Usai Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran

34
×

Rupiah Menguat Usai Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar AS di layar monitor.
Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Senin (3/8/2026) di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Mata uang Garuda sempat berada di level Rp 18.022 per dolar AS sebelum akhirnya bergerak menguat ke kisaran Rp 17.975 per dolar AS pada pukul 09.10 WIB.

Penguatan rupiah ini dipicu oleh sentimen positif pasar global setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Keputusan tersebut diambil menyusul adanya permintaan dari Teheran serta sejumlah negara tetangga di kawasan Timur Tengah.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa pembatalan rencana serangan tersebut telah menurunkan tensi konflik yang sebelumnya sempat memanas. Hal ini secara langsung menekan posisi dolar AS yang selama ini diandalkan investor sebagai aset safe haven.

Meredanya ketegangan geopolitik mendorong para pelaku pasar kembali melirik aset-aset berisiko di negara berkembang. Kondisi ini memberikan ruang bagi mata uang seperti rupiah untuk mencatatkan apresiasi di awal pekan.

Meski demikian, penguatan rupiah diprediksi akan berlangsung terbatas sepanjang hari ini. Investor cenderung mengambil langkah hati-hati sembari menunggu rilis data indikator ekonomi domestik yang dijadwalkan pada siang hari.

Data ekonomi domestik tersebut dinilai krusial bagi pelaku pasar dalam menentukan arah pergerakan aset keuangan selanjutnya. Investor diperkirakan akan menyesuaikan posisi portofolio mereka berdasarkan hasil rilis data tersebut.

Secara teknikal, pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan akan berada dalam rentang Rp 17.950 hingga Rp 18.100 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan sikap pasar yang masih memantau perkembangan situasi global maupun domestik secara saksama.

Di pasar saham Asia secara luas, dinamika pasar tetap menjadi perhatian karena adanya tekanan pada indeks utama. Sebagai gambaran, indeks Kospi di bursa saham Asia dilaporkan terkoreksi sebesar 4,5% pada pembukaan perdagangan hari ini.

Situasi geopolitik di Timur Tengah memang sempat menjadi sorotan pasar selama beberapa waktu terakhir. Ancaman balasan dari pihak AS sempat mencuat setelah adanya insiden yang menewaskan prajurit AS di Yordania, yang memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.

Namun, pernyataan Presiden Trump mengenai keterbukaan untuk melakukan dialog dengan Iran sedikit memberikan angin segar bagi pasar keuangan. Meski risiko “perang abadi” sempat diperingatkan oleh sejumlah analis, langkah de-eskalasi yang diambil pemerintah AS saat ini menjadi sentimen dominan.

Di sisi lain, pasar modal Indonesia juga tengah mencermati berbagai perkembangan korporasi. Selain pergerakan mata uang, pelaku pasar juga menyoroti kebijakan emiten besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang baru saja mengumumkan perubahan pada struktur pengendali tunggal perusahaan.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga terpantau melakukan pengawasan ketat terhadap beberapa saham yang masuk dalam kategori Unusual Market Activity (UMA). Saham-saham tersebut meliputi MDIA, GULA, dan DEWI, di mana investor diminta untuk mencermati pola transaksi serta keterbukaan informasi yang disampaikan oleh emiten terkait.