Energi

Trump Batalkan Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Merosot

44
×

Trump Batalkan Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Merosot

Sebarkan artikel ini
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat memberikan pernyataan terkait kebijakan luar negeri.
Presiden Donald Trump memutuskan membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran.

SINGAPURA – Harga minyak mentah dunia mencatatkan penurunan signifikan pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026, merespons keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Keputusan ini sekaligus membuka peluang bagi dimulainya kembali perundingan damai antara kedua negara dalam waktu dekat.

Harga minyak Brent tercatat anjlok sebesar 4,7% ke level US$ 83,77 per barel pada pukul 07.49 waktu Singapura. Pada awal sesi perdagangan, harga Brent sempat mengalami tekanan lebih dalam hingga merosot 7,3%.

Penurunan harga ini terjadi setelah minyak Brent sempat mengalami lonjakan harga sebesar 25% sepanjang Juli. Kenaikan tersebut merupakan catatan bulanan tertinggi sejak Maret, dipicu oleh ketegangan geopolitik yang meluas hingga ke wilayah Laut Merah dan Yordania.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 4,8% dan berada di posisi US$ 80,64 per barel. Komoditas energi lainnya, yakni harga gas alam Eropa, turut mengikuti tren penurunan dengan koreksi sebesar 6,3% di pasar Asia.

Presiden Trump melalui unggahan di platform Truth Social menyatakan kesediaannya membatalkan serangan militer dengan satu syarat utama. Ia mendesak agar kesepakatan untuk membuka kembali akses Selat Hormuz dapat segera dicapai.

Langkah diplomatik ini diambil Trump menyusul desakan dari berbagai sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi. Para pemimpin kawasan tersebut meminta Washington untuk memprioritaskan penyelesaian konflik melalui jalur negosiasi.

Meski ketegangan militer mereda, negara-negara produsen di kawasan Teluk tetap mengambil langkah antisipasi dengan mencari jalur ekspor alternatif. Turki dan Irak bahkan telah menyepakati perpanjangan perjanjian pipa minyak selama satu tahun dengan kapasitas hingga 750.000 barel per hari.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa perundingan dengan Oman telah memasuki tahap akhir. Fokus pembicaraan mencakup pembahasan mengenai rute baru di kawasan Selat Hormuz.

Kendati demikian, pihak Iran belum memberikan kepastian mengenai status operasional Selat Hormuz ke depannya. Juru bicara kementerian menyatakan bahwa pembicaraan saat ini belum menyentuh detail mengenai penutupan atau pembukaan penuh jalur vital tersebut.

Dinamika pasokan juga dipengaruhi oleh keputusan negara-negara utama OPEC+ yang menyetujui kenaikan kuota produksi secara terbatas. Kebijakan ini bertujuan untuk menuntaskan pemulihan pasokan yang sempat dipangkas pada tahun 2023.

Dari sisi operasional, Caspian Pipeline Consortium (CPC) di Kazakhstan kembali beroperasi dengan kapasitas penerimaan 100.000 ton per hari per 1 Agustus. Namun, kelancaran ekspor tetap bergantung pada kesediaan operator kapal tanker dalam menanggung risiko melintasi jalur laut yang rawan konflik.

Sebelumnya, gangguan arus ekspor melalui CPC terjadi akibat serangkaian serangan terhadap kapal tanker di sekitar fasilitas Laut Hitam. Jalur ini merupakan salah satu rute krusial bagi ekspor minyak mentah dari Kazakhstan ke pasar global.