JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali mencatatkan kinerja positif pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Mata uang Garuda berhasil ditutup menguat tipis ke level Rp 17.923 per dolar Amerika Serikat (AS).
Penguatan ini merepresentasikan kenaikan sebesar 0,06% dibandingkan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya. Pada sesi Rabu, rupiah sempat berada di level Rp 17.933 per dolar AS.
Kenaikan nilai tukar rupiah terjadi di tengah dinamika pasar keuangan Asia yang cenderung bervariasi. Sebagian besar mata uang di kawasan regional terpantau mengalami tekanan koreksi terhadap dolar AS sepanjang hari ini.
Won Korea Selatan mencatatkan pelemahan paling dalam di antara mata uang Asia lainnya. Nilai tukar won anjlok sebesar 0,47% hingga penutupan sesi perdagangan sore ini.
Selain won, tekanan juga dialami oleh rupee India dan peso Filipina yang masing-masing terkoreksi sebesar 0,09%. Kondisi serupa menimpa dolar Singapura yang terdepresiasi sebesar 0,09%.
Sentimen negatif juga membayangi mata uang yen Jepang yang tergelincir 0,08%. Sementara itu, yuan China terpantau melemah tipis sebesar 0,02% terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia lainnya berhasil mengikuti jejak rupiah dalam zona hijau. Baht Thailand memimpin penguatan di kawasan Asia dengan lonjakan sebesar 0,2%.
Dolar Taiwan juga menunjukkan kinerja cukup solid setelah ditutup menguat 0,17%. Tren positif ini turut diikuti oleh ringgit Malaysia yang berhasil naik 0,07%.
Sementara itu, pergerakan dolar Hong Kong terpantau relatif stabil terhadap dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Fluktuasi mata uang tersebut tetap berada dalam rentang yang tipis.
Pergerakan nilai tukar rupiah yang mampu bertahan di zona penguatan mencerminkan ketahanan mata uang domestik di tengah sentimen global. Pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang memberikan pengaruh signifikan terhadap volatilitas mata uang di pasar berkembang.
Stabilitas rupiah di level Rp 17.923 menjadi indikator penting bagi pelaku pasar dalam memetakan posisi aset di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hingga pukul 15.00 WIB, dinamika pasar regional masih dipenuhi oleh sentimen yang beragam.
Para analis pasar keuangan terus memantau perkembangan arus modal asing yang masuk ke pasar domestik. Faktor fundamental ekonomi nasional dinilai masih menjadi penopang utama bagi rupiah untuk tetap kompetitif menghadapi tekanan dolar AS.
Hingga penutupan pasar hari ini, otoritas moneter terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap sejalan dengan nilai fundamentalnya. Fokus pasar kini beralih pada data ekonomi selanjutnya yang diprediksi akan menjadi penentu arah pergerakan mata uang di akhir pekan.




